Pekarangan Museum Keprajuritan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur menyajikan pemandangan berbeda. Suasananya mirip taman bermain di sore hari puluhan tahun lalu. Tampak beberapa anak asyik bermain galasin, congklak, dan permainan tradisional lainnya.
Puluhan gasing kayu berputar bersamaan. Bayu (7) dan anak laki-laki lainnya bersorak memberi dukungan gasing gacoannya masing-masing. Gasing mana paling lama berputar, maka dialah yang menang. Corak warna-warni gansing yang berputar terpantul dari mata antusias Bayu dan teman-temannya.
Begitu juga dengan Suci (7) beserta puluhan anak perempuan lainnya. Mereka terbagi dalam dua kelompok, bergiliran melompati tali yang terbuat dari karet. Tali tersebut dilompati dengan ketinggian yang terus meningkat. Jika ada salah satu orang yang gagal melompati tali tersebut, maka giliran melompat harus diberikan dengan kelompok rivalnya.
Tak sampai disitu, Bayu, Suci dan puluhan anak lain diajak mengunjungi anjungan yang ada di TMII seperti anjungan Bali, Jogja, Jawa Timur, Jawa Barat oleh kakak-kakak pendamping dari Bakti Sosial Lintas Komunitas (Baskom). Masing-masing anjungan sudah disiapkan beberapa permainan khas dari kebudayaan anjungan tersebut. Di anjungan Jawa misalnya, para pendamping menyediakan tantangan berupa catur jawa dan juga permainan Cublak-cublak suweng.
Bayu dan Suci mengaku baru kali ini memainkan permainan tradisional. Biasanya mereka memainkan game yang ada di telepon genggam, komputer baik offline maupun online. Tidak ada interaksi antara satu anak dan anak lainnya, mereka terpaku kepada layar masing-masing dan tidak menumbuhkan rasa kebersamaan, kerja sama, serta peduli akan sesama.
Riza Firmansyah, humas Baskom mengatakan, media permaianan dari gadget maupun komputer yang saat ini digemari dapat memberikan efek negatif kepada anak-anak. Jaringan internet dapat memberikan akses kepada anak-anak untuk melihat apapun. Ini memungkinkan anak-anak menyerap hal-hal negatif dari internet. Mulai dari kekerasan bahkan hingga pornografi.
“Sedangkan permainan tradisional dapat memberikan rasa kebersamaan serta jiwa kreatif kepada anak-anak. Misalnya membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk,” jelas Riza pada acara Dolanan Anak Tempo Doeloe yang di TMII, Jakarta Utara, Sabtu (4/6/2016).
Riza dan puluhan relawan Baskom lainnya menilai permainan tradisional yang dinilai lebih mendidik ketimbang permainan sekarang yang saat ini mudah terkontaminasi oleh hal-hal negatif. Itulah sebabnya mereka mengadakan acara Dolanan Anak Tempo Doeloe yang bertujuan untuk memperkenalkan kembali kepada anak-anak terhadap permainan tradisonal.
“Permainan dulu memang lebih kuno, namanya juga jaman dulu. Tetapi itu lebih mendidik dan melatih imajinasi kita,” ungkapnya.
Dikatakannya, dibutuhkan pengawasan dari orangtua terhadap anak-anak Indonesia yang saat ini lebih tertarik dengan permainan di gadget dan komputer ketimbang permainan tradisional. Orang tua, lanjutnya, diharapkan dapat memberikan bimbingan kepada anak-anak agar tidak kecanduan dengan gadget dan media elektronik lainnya.
Dirinya menambahkan, penting sekali memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak agar permainan tersebut tetap lestari. Pasalnya permainan tradisional merupakan warisan kebudayaan dari nenek moyang. Terbukti dari setiap para pendamping memperkenalkan permainan tradisional, anak-anak tidak tahu nama dan cara memainkannya.
“Harapan saya semoga permainan tradisional tidak hanya menjadi sejarah. Permainan tradisional tetap ada hingga seterusnya. Dan mereka juga memberi tahu kepada anak-anaknya nanti hingga seterusnya. Kemudian anak-anak juga dapat lebih sadar bahwa permainan tradisonal lebih mengasyikan dan mendidik ketimbang permaina modern yang tok gini doang,” pungkasnya.





