Sehari-hari ia hanya mendekam di dalam kamar. Meratap, kadang-kadang menangis. Ketika teman sebayanya mengajak bermain, ia selalu menampik. Rasa jenuh yang menyergap pun tak digubris.
Ia malu kepada teman-temannya. Penampilannya cukup “menyeramkan”, karena salah satu matanya menonjol keluar karena tumor. “Saat itu saya sudah pasrah, mungkin saya hidup tidak lama lagi,” demikian pengakuan Ahmad Nuril Huda, 21 tahun, warga asal Blora Jawa Tengah.
Nuril ingat betul, suatu hari saat ia duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, tiba-tiba matanya sakit. Lambat laut, sakitnya semakin terasa. Matanya yang memerah bengkak hingga seukuran bila ping pong.
Kedua orang tuanya sempat membawanya berobat ke Semarang, namun minimnya biaya membuatnya berhenti. Hampir delapan tahun Nuril hanya bisa berdiam diri di kamarnya. Ayahnya yang berprofesi sebagai petani gurem pun tak bisa berbuat banyak. Jangankan untuk pengobatan anaknya, untuk kebutuhan sehari-hari saja harus mengencangkan ikat pinggang.
Warga di desa Nuril juga tak bisa membantu lebih banyak. Setali tiga uang, kondisi ekonomi mereka juga sulit. “Ya hanya bisa pasrah, sejak itu saya tidak lagi sekolah,” kenang Nuril.
Hingga pada suatu hari di tahun 2012, ada seorang jurnalis media lokal yang datang. Ia kemudian mengangkat cerita Nuril yang tengah membutuhkan bantuan. Dari media inilah pertolongan Allah datang.
Relawan Sedekah Rombongan (SR) yang membaca kisah Nuril langsung mendatanginya. Mereka pun membawa Nuril ke RS Dr. Sardjito Yogyakarta. Sayangnya, di Jogja Nuril tidak segera ditangani karena suatu alasan. Nuril pun kemudian dibawa ke Jakarta untuk mendapat penanganan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tumornya diangkat, Nuril pun kehilangan satu bola matanya di sebelah kanan.
Saat penanganan di RSCM inilah Nuril bertemu dengan Zainal Abidin, Direktur Institut Kemandirian Dompet Dhuafa yang juga aktif di Sedekah Rombongan. Zainal memotivasi Nuril agak tidak patah semangat menghadapi hidup. Zainal meminta Nuril untuk mengikuti pelatihan di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa setelah sembuh nanti.
Sejak tumornya diangkat, anak kedua dari dua bersaudara ini menjalani kehidupannya kembali. Namun, karena ia putus sekolah sejak kelas 3 SD, ia pun tak berminat melanjutkan sekolahnya. Sehari-harinya, Nuril hanya membantu orang tuanya “ngarit” di sawah. Kadang ia harus menjadi kuli panggul di desa untuk menambah penghasilan orang tua.
Nuril kemudian ingat akan ajakan Zainal Abidin. Nuril baru memenuhinya tiga tahun setelah pertemuan mereka di RSCM. Nuril pun mengikuti pelatihan teknisi handphone di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa di bilangan Karawaci Tangerang.
Kini, Nuril masih mendalami kemampuannya. Setelah lulus dari IK, ia magang di sejumlah jasa perbaikan handphone di Bekasi dan Bogor. “Saya berharap bisa membuka layanan service di kampung,” ujarnya. “Saya ingin jadi wirausaha di bidang per-HP-an,” tambahnya.
Mata Nuril berkaca-kaca ketika ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihaknya yang membangkitkan harapannya untuk melanjutkan hidup. “Saya hanya bisa berterima kasih. Di IK saya bisa belajar banyak, bisa punya keterampilan dan punya percaya diri. Dulu saya kalau ketemu orang selalu ngumpet,” tukasnya.





