JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa gempa 5,8 magnitudo yang mengguncang Bengkulu, pada Rabu (10/7) malam pukul 22.32 WIB, akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangannya mengatakan dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Gempa tersebut terletak di laut pada ke dalaman 13 kilometer dengan koordinat 5.26 LS, 101.10 BT atau berjarak 130 kilometer dari arah Barat Laut Enggano, Bengkulu.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust),” ujar Daryono.
BMKG menyatakan bahwa berdasarkan estimasi peta guncangan (shakemap), gempa itu menimbulkan guncangan di daerah Enggano, Bengkulu Utara dengan skala intensitas III – IV MMI, dimana getaran dirasakan nyata dalam rumah, baik di daerah Pagai Selatan dan Kepulauan Mentawai.
“Terasa getaran seakan-akan truk berlalu dan daerah Putri Hijau, Bengkulu Utara dengan skala intensitas II – III MMI. Getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan akan truk berlalu,” ujarnya.
Meski begitu, hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.




