WALAU belum diwujudkan sampai hari ini, ancaman Iran untuk menyerang Israel sebagai pembalasan atas kematian tokoh kunci Hamas dan mantan PM Palestina Ismail Haniyeh (31/7) belum reda.
Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Ali Fadavi menegaskan, Iran akan melaksanakan perintah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei untuk menghukum keras Israel atas pembunuhan pemimpin Hamas di Teheran tersebut.
“Perintah pemimpin tertinggi mengenai hukuman keras terhadap Israel dan balas dendam atas darah martir Ismail Haniyeh sudah jelas dan eksplisit akan dilaksanakan dengan cara terbaik, ” kata Ali Fadavi seperti diberitakan Reuters (10/8).
Walau belum ada pernyataan dari Israel, Iran dan Hamas menuduh Israel lah dalang pembunuhan Haniyeh saat ia berada di Teheran seusai menghadiri pelantikan Presiden Baru Iran Masoud Pezeshtian sehari sebelumnya.
Haniyeh tewas bersama pengawal pribadinya, diduga akibat ledakan bom yang dipasang di kamar tidurnya di kompleks veteran di Teheran utara oleh agen rahasia Israel Mossad, berkolaborasi dengan agen lokal.
Yang jelas, tewasnya Haniyeh telah memicu kekhawatiran, perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza yang masih berlangsung meluas menjadi perang terbuka di kawasan Timur Tengah.
Presiden Rusia Vladimir Putin yang berada di belakang Iran mengingatkan negara “sekutu”-nya itu agar serangan terhadap Israel, jika tidak bisa dihindari, dilakukan secara terbatas dan tidak menyasar warga sipil.
AS terang-terangan dukung Israel
Sementara AS yang berada di belakang Israel juga mengingatkan Iran dan Israel untuk menahan diri, namun merespons ancaman Fadavi, Jubir Keamanan Gedung Putih John Kirby terang-terangan menyatakan dukungannya pada Israel.
“Kami yang memiliki banyak sumberdaya di kawasan siap membela Israel, “ ujarnya.
Menurut catatan, AL AS sudah mengirimkan gugus tugas armadanya ke Laut Mediteranea dipimpin kapal induk USS Abraham Linclon, menyusul USS Theodore Rosevelt yang sudah ditempatkan lebih dulu di Laut Oman.
“Ketika mendengar retorika seperti itu, kami harus meresponsnya dengan serius, dan kami melakukannya,” tambahnya.
Sebaliknya Misi Iran untuk PBB Jumat lalu (9/8) mengatakan, tanggapan Teheran atas tuduhan pembunuhan Haniyeh oleh Israel “sama sekali tidak terkait” dengan upaya mediasi gencatan senjata dalam perang 10 bulan antara Israel dan Hamas di Gaza.
“Namun respons kami akan diatur waktunya dan dilakukan dengan cara yang tidak menganggu gencatan senjata,” kata misi tersebut ketika ditanya apakah Iran bersedia menunda aksi pembalasannya hingga setelah negosiasi gencatan senjata Gaza, djadwalkan pekan depan.
Sebelumnya, AS, Mesir, dan Qatar (8/8) meminta Israel dan Hamas untuk bertemu dalam perundingan di Doha atau Kairo, 15 Agustus untuk menyelesaikan gencatan senjata Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera.
Sementara pakar Iran di Dewan Timur Tengah bemarkas di Doha, Qatar Hamidreza Azizi memperkirakan Iran ingin menunjukkan kesiapan mereka untuk menyerang Israel karena para pemimpinnya menganggap, Israel akan menyasar pejabat lainnya jika dibiarkan tanpa “sanksi hukuman”.
Seperti yang sudah ditegaskan oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya adalah kewajiban negara untuk membalas dendam atas kematian Haniyeh.
Israel belum mengaku bertanggung jawab atas kematian Haniyeh dan hanya bertanggung jawab atas penembakan rudal ke sebuah bangunan di Dahiya, distrik padat di ibu kota Lebanon, Beirut yang menewaskan Komandan Hezbollah Beirut, Fuad Shukr (30/7).
Serangan itu dilakukan Israel sebagai pembalasan atas serangan roket Hezbollah sebelumnya yang menewaskan 12 anak-anak Druze di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Sementara IRGC dalam persiapan perang dengan Israel dilaporkan telah menyerahkan 2.640 rudal dan drone kepada AL Iran dalam acara yang dihadiri Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Hossein Salami, demikian dikutip Mehr News.
Senjata yang diserahkan berupa rudal jelajah, berbagai jenis sistem rudal jarak jauh, jarak menengah, drone serang , sistem peperangan elektronik, radar AL dan peralatan tempur lain.
Retorika perang masih membara di Timur Tengah, jadi tidaknya, waktu yang menentukan walau seluruh negara yang cinta damai pasti tidak menginginkannya. (berbagai sumber/ns).





