JAKARTA – Generasi Z (Gen Z) dan Alpha harus ambil bagian dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Pasalnya, mereka adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa perubahan iklim semakin mengkhawatirkan dan menyebabkan dampak yang lebih luas.
Hal itu, lanjutnya, terlihat dari berbagai peristiwa alam terkait iklim seperti peningkatan suhu, gangguan siklus hidrologi, dan meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia. Untuk mengatasi ini, kata Dwikorita, kolaborasi antargenerasi sangat dibutuhkan.
“Generasi Z dan Alpha akan menjadi generasi yang paling merasakan dampak dari perubahan iklim. Karenanya, saya yakin anak-anak muda yang jumlahnya mendominasi penduduk Indonesia bisa memberikan dampak signifikan terhadap aksi perubahan iklim,” ujar Dwikorita dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/8/2024).
Dwikorita menekankan bahwa perubahan iklim global bukanlah hoaks atau prediksi masa depan, tetapi kenyataan yang dihadapi miliaran orang di dunia.
Ia juga menyebutkan bahwa tahun 2023 adalah tahun terpanas dalam sejarah, dengan anomali suhu global mencapai 1,45 derajat Celcius di atas era pra-industri, hampir mendekati batas yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015 yaitu 1,5 derajat Celcius.
Pada 2023, terjadi rekor suhu global harian baru serta gelombang panas ekstrem di Asia dan Eropa. BMKG memproyeksikan bahwa suhu udara di Indonesia bisa naik hingga 3,5 derajat Celcius dibandingkan dengan era pra-industri pada tahun 2100 jika mitigasi iklim gagal dilakukan.
“Sementara WMO menyebut bahwa tahun 2050 mendatang, dalam skenario terburuk maka negara-negara di dunia akan menghadapi tidak hanya bencana hidrometeorologi, namun juga kelangkaan air yang berakibat pada krisis pangan. Jika melihat tahun tersebut, dapat dipastikan bahwa Generasi Z dan Alpha lah yang akan paling merasakan,” tuturnya.





