JAKARTA – Penyakit kanker sering kali menjadi momok bagi banyak orang, sehingga tidak heran jika banyak mitos yang berkembang seputar penyakit ini.
Dr. Andhika Rachman, dokter spesialis hematologi onkologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, meluruskan beberapa mitos yang beredar di masyarakat, salah satunya terkait kopi yang disebut-sebut bisa mencegah kematian akibat kanker.
Menurut Andhika, kopi tidak langsung berfungsi sebagai obat anti kanker, tetapi minum tiga cangkir kopi per hari dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung karena kandungan antioksidannya yang tinggi.
“Nggak langsung dengan minum kopi menjadi antikanker, tapi minum tiga gelas sehari dia akan menyelamatkan jantung,” kata Andhika, dilansir dari Antara.
Namun, dia menegaskan bahwa kopi bukan obat utama untuk kanker, melainkan berfungsi sebagai anti-inflamasi dan antioksidan. Selain itu, pasien yang mengonsumsi kopi harus dipastikan tidak memiliki hipertensi atau gangguan lambung.
Para ahli kesehatan juga menyatakan, minum 1–2 cangkir kopi sehari tidak menyebabkan kanker, bahkan bisa menurunkan risiko terkena penyakit tersebut.
Studi pada 2017 menunjukkan bahwa konsumsi 1 cangkir kopi sehari berkaitan dengan penurunan risiko kanker hati dan kanker endometrium.
Studi lain pada 2018 juga menemukan hubungan antara konsumsi kopi dengan penurunan risiko kematian pada penderita kanker usus besar dan risiko kanker payudara setelah menopause.
Lebih lanjut, kopi juga diketahui dapat membantu mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes selama tidak ditambahkan gula berlebihan.
Kandungan kafein dalam kopi juga mampu meningkatkan metabolisme dan pembakaran lemak, yang dapat membantu menurunkan berat badan.
Selain mitos tentang kopi, ada juga mitos bahwa kondisi kuku bisa mendeteksi adanya kanker. Andhika menjelaskan bahwa kuku lebih relevan digunakan untuk melihat apakah seseorang mengalami anemia, kondisi metabolisme secara umum, atau kekurangan kalsium.
Meskipun ada gangguan pada pembentukan kuku, hal ini tidak langsung terkait dengan kanker, melainkan kemungkinan gangguan nutrisi.
Kuku juga bisa membantu mendeteksi kekurangan oksigen (hipoksia kronis), yang sering terjadi pada pasien kanker paru. Tanda dari hipoksia ini adalah bengkaknya kuku sehingga tidak ada celah saat kedua kuku disatukan.
Andhika membantah mitos bahwa sering berbaring bisa menyebabkan kanker pankreas. Ia menjelaskan bahwa kanker pankreas terjadi akibat penyakit metabolik lainnya yang dipicu oleh gaya hidup malas bergerak, seperti obesitas dan penyakit hati berlemak. Namun, berbaring saja tidak menyebabkan kanker secara langsung.





