JAKARTA – Mata malas atau ambliopia adalah gangguan penglihatan pada salah satu mata karena adanya masalah pada saraf yang menghubungkan mata dengan otak, sehingga kemampuan penglihatan mata tersebut menurun.
Mata malas biasanya terjadi pada anak-anak dari lahir hingga usia 7 tahun. Gangguan ini membuat otak lebih memproses sinyal penglihatan dari mata yang sehat dan mengabaikan mata yang terkena ambliopia.
Dokter Spesialis Mata dari RS Mata Cicendo, Feti Karfiati Memed, mengingatkan pentingnya penanganan mata malas pada anak untuk mencegah kebutaan di kemudian hari.
Feti menjelaskan bahwa penyebab utama hilangnya penglihatan pada orang dewasa usia 20-70 tahun adalah ambliopia yang tidak diobati pada masa kecil.
“Hanya anak-anak yang bisa mengalami ambliopia. Jika tidak diterapi pada masa anak-anak, hal ini akan mengakibatkan hilangnya penglihatan secara permanen,” ujarnya.
Ambliopia, kata Feti, biasanya disebabkan oleh kelainan refraksi yang tidak dikoreksi, mata juling (strabismus), atau masalah mata seperti katarak.
Dia menambahkan, penanganan ambliopia harus dilakukan sebelum anak berusia 5 tahun, karena semakin sulit disembuhkan setelah usia tersebut, dan risiko kehilangan penglihatan permanen meningkat jika terapi dilakukan setelah usia 8 hingga 10 tahun.
Anak-anak yang berisiko mengalami ambliopia adalah mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan mata juling, mata malas, atau penggunaan kacamata sejak dini. Selain itu, anak yang lahir prematur, memiliki perkembangan terlambat, atau diabetes juga berisiko lebih tinggi.
Feti menekankan pentingnya skrining mata pada bayi baru lahir, idealnya pada usia 0 hingga 2 tahun, untuk mendeteksi masalah penglihatan lebih awal.
“Kemudian cek penglihatan pergerakan mata atau adanya nistagmus, jadi matanya tidak diam, dia bergerak terus, kemudian bagaimana posisi bola mata apakah ada juling, dan refleks pada kornea serta cover tes untuk melihat ada juling atau tidak,” kata Feti.
Skrining juga harus dilakukan pada usia 3 hingga 4 tahun untuk mengevaluasi ketajaman penglihatan anak. Setelah usia 5 tahun, skrining ulang disarankan setiap tahun.





