Yordania, “pelanduk” di tengah Iran dan Israel

Yordania terpaksa menjatuhkan rudal-rudal Iran yang ditembakkan ke Israel dengan alasan membela diri, walau membuat Iran berang.

SITUASI yang dihadapi Yordania yang diapit dua raksasa militer Timur Tengah yang berseteru yakni Iran dan Israel bagaikan “pelanduk di tengah pertarungan dua gajah”.

Yordania pernah terjerumus dalam perang besar di kubu negara-negara Arab melawan Israel dalam Perang Enam Hari, Juni 1967 yang berujung kekalahan.

Kala itu, pasukan Yordania memutuskan ikut menyerang Israel setelah mendapat informasi menyesatkan yang menyebutkan, pasukan Mesir sudah di ambang kemenangan, bahkan sudah merangsek maju ke ibu kota Israel, Tel Aviv.

Akibatnya, karena kalah jauh dalam persenjataan, hampir seluruh kekuatan militer Yordania dilumpuhkan oleh Israel yang berkat keunggulan kekuatan udaranya, dengan cepat menaklukkan  Mesir, Suriah dan negara-negara  Arab lainnya.

Dalam perang kilat itu, Israel berhasil merebut Semenanjung Sinai, Mesir,  Dataran Tinggi Golan yang strategis milik Suriah dan Yepi Barat termasuk Yerusalem Timur, Palestina.

Pasca Perang Enam Hari 1967,  mungkin membuat Yordania kapok, lalu memilih berdamai dengan menandatangani perjanjian damai dengan Israel yang dimediasi AS pada 1994.

Pada Perang Teluk I, diawali dengan serbuan mendadak pasukan Irak ke Kuwait pada Agustus 1990, Yordania kembali mengalami situasi bak menghadapi “buah si malakama”, antara ikut berperang di pihak Irak atau memilih netral.

Pasalnya, sepertiga penduduk Yordania terdiri dari etnis Palestina yang terbuai janji Presiden Irak Saddam Hussein yang akan memberikan berbagai priviledge bagi bangsa Palestina jika ia memenangi perang.

Namun saat itu, pemerintah Yordania tidak mau ambil risiko seperti dialami dalam Perang Enam Hari 1967. Caranya, panglima AB Yordania saat itu, Pangeran Abdullah II (kini Raja), hampir setiap hari menginspeksi pasukannya.

Hal itu dilakukan untuk mengakomodasi keinginan etnis Palestina di negerinya agar pasukan Yordania ikut bergabung dengan pasukan Iraq.

Hampir setiap hari, TV dan media cetak setempat  memberitakan kesiapan pasukan Yordania seolah-olah akan ikut berperang di pihak Saddam, padahal cuma untuk membesarkan hari orang Palestina.

Buah simalakama  

Yordania kembali dalam dilema saat Iran menembakkan lebih seratusan rudal ke wilayah Israel sebagai balasan atas kematian dua jenderal unit pasukan khusus Quds Garda Revolusi Iran (IRGC) di Damaskus, Suriah April lalu.

Pasalnya, Yordania, demi membela diri dan atas nama kedaulatan negerinya, terpaksa menembak jatuh rudal-rudal dan drone Iran yag melintas di koridor udaranya saat menyasar wilayah Israel pada 13 April lalu.

Itu yang membuat berang Iran, yang bahkan juga mengancam akan memasukkan Yordania dalam target serangan berikutnya. Sebagian rudal-rudal dan dron Iran dijatuhkan Yordania  dan sebagian lagi dihadang sistem pertahanan udara Iron Dome Israel.

Ada juga yang lolos dari sergapan sistem rudal anti rudal David Slings dan Arrow yang terintegrasi dalam sistem Iron Dome dan dilaporkan hanya menimbulkan kerusakan ringan bagi Israel.

Iran kembali meluncurkan hampir 200 rudal balistik ke Israel,1 Oktober lalu dan Yordania pun kembali ikut menembak jatuh rudal-rudal yang melintasi wilayah udaranya.

Situasi geopolitik di Timur Tengah makin ruwet karena perseteruan lama antara kubu negara Arab dan Israel yang masih menyisakan bara isu Palestina yang bisa menyeret banyak negara dan berimbas kemana-mana. (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here