Ingin Umur Panjang? Perbanyak Makan Tahu

TERNYATA salah satu yang membuat usia rata-rata orang Jepang lebih panjang adalah dengan menjaga pola makan, khususnya mengosumsi banyak tahu.

Geriatri.id menyebutkan, harapan hidup orang Jepang rata-rata 83, 89 tahun atau peringkat tertinggi di dunia, dibandingkan misalnya dengan orang Indonesia yang rata-rata usianya hanya mencapai 72,5 tahun.

Ahli nutrisi asal Jepang, Michiko Tomioka yang dilaporkan CNBC menyebutkan,  salah satu makanan yang paling rutin dikonsumsi orang-orang di negaranya adalah tahu.

Tahu, menurut Tomioka yang tumbuh besar di prefektur Nara, Jepang, menjadi makanan pokok sepajang kehidupannya  dan berperan penting dalam menjaga kesehatan dan umur panjang.

Tomioka mengatakan, di Jepang tahu dinikmati oleh orang-orang dari berbagai kelompok usia. Tahu juga dapat disantap dengan aneka makanan, seperti natto dan sup misso.

Natto adalahpeganan terbuat dari kedelai yang difermentasi (di Indonesia seperti taucho), sedangkan sup misso berbahan serelea, beras, gandum atau jelai.

“Mertua saya berusia 95 dan 88 tahun. Mereka masih tinggal di Nara, dan setiap hari makan tahu, natto, dan sup miso. Mereka mengaitkan umur panjang dan kekebalan tubuh mereka dengan rutinitas itu,” ujar Tomioka.

Tomioka menjelaskan tahu mengandung asam amino esensial yang terdapat dalam daging, unggas, telur, ikan, dan susu, tetapi tanpa kolesterol. Selain itu, tahu juga kaya akan kalsium, zat besi, vitamin, serat, dan isoflavon, sejenis estrogen tanaman.

“Penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi tahu dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung , melawan kanker dan mengurangi risiko pengeroposan tulang,” ucapnya.

Selain menyehatkan, harga tahu juga cenderung lebih terjangkau dibandingkan daging. “Bagi saya, ini adalah matematika sederhana.

Dalam seminggu, jika Anda mengganti satu atau dua burger daging sapi dengan burger tahu, Anda akan merasa lebih baik, membayar lebih sedikit untuk belanjaan, dan melakukan sesuatu yang kecil untuk membantu lingkungan,” kata Tomioka.

Cara Mengolah Tahu
Tomioka mengatakan tahu memiliki rasa yang alami dan lembut, sehingga dapat dipadukan dengan hampir semua masakan.

“Sebagai ahli gizi dan instruktur memasak, saya selalu mengembangkan resep baru, dan tahu membuatnya sangat mudah untuk bereksperimen,” tutur Tomioka.

“Saya menyajikan tahu dalam berbagai cara: digoreng atau dalam sup dan salad, dalam nimono (akar dan sayuran yang dimasak lambat), pangsit, panekuk sayuran, kari vegan, burger, gulungan kubis, mochi, dan es krim, dan masih banyak lagi,” sambungnya.

Selain itu, Tomioka juga kerap memadukan tahu dengan sup miso, akar-akaran musiman, sayuran, rumput laut, jahe, dan goji berry.

Biasanya, ia akan membuat sepanci besar dan memakannya sepanjang minggu, menyajikannya dengan nasi multigrain, natto, dan acar.

“Saya sering menyebut tahu sebagai sahabat terbaik untuk hidup bahagia. Saya harap Anda terinspirasi untuk memasukannya ke dapur Anda juga,” pungkasnya.

Tidak jauh berbeda dengan di Jepang, di Indonesia sebearnya , jenis penganan berbasis kedelai seperti tahu dan tempe juga sangat digemari seluruh lapisan masyrakat, tua muda, besar kecil, kaya miskin.

Penganan terbuat dari tahu dan tempe sangat beragam di negeri ini, mulai hanya digoreng, digulai, dibuat orek atau menjadi campuran berbagai jenis kuliner,  digulai, dioseng dan banyak lagi lainnya.

Goreng-gorengan, jenis penganan yang paling eksis di Indonesia yang ada di mana-mana terutama sebagai jajanan jalanan juga tidak afdol jika tidak ada tahu atau tempe goreng, selain singkong, ubi atau bakwan goreng.

Bedanya dengan penganan Jepang, mungkin dari sisi higienitasnya, penyimpanannya baik sebelum mau pun saat disajikan, mau pun pengolahannya.

Bisa dibayangkan kondisi penyimpanan bahan mentahnya mengingat para pedagang, sekaligus pengolah goreng-goreng adalah masyrakat golongan ekonomi lemah.

Sudah rahasia umum, demi menekan biaya produksi, minyak yang digunakan untuk mengolah goreng-gorengan digunakan berkali-kali sehingga warnanya berubah menjadi hitam pekat yang bersifat memicu kanker atau karsinogenik.

Mungkin ada baiknya, jika kementerian ekonomi kreatif berupaya menaikkan kelas gorreng-gorengan dengan memperbaiki cita rasa,  higienitas pengolahan dan bahan pendukungnya serta tampilannya. (CNBC/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here