Analisis Iklim BMKG: Hujan Meningkat Mulai November, Suhu Panas Berakhir di Indonesia

Ilustrasi hujan. (Foto: Getty Images/iStockphoto)

JAKARTA – Curah hujan yang mulai turun di beberapa wilayah Indonesia pada awal November menandai berakhirnya periode suhu panas maksimum di Tanah Air pada 2024, menurut analisis iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa hujan kini mulai merata di berbagai wilayah Indonesia, didorong oleh kembalinya fenomena La Nina meskipun dalam kategori lemah.

“Selain itu, menjauhnya beberapa siklon tropis dari Indonesia turut mendukung pembentukan awan hujan di wilayah ini,” tuturnya.

Ardhasena menambahkan, beberapa siklon, seperti Trami dan Kong-Rey, sebelumnya terpantau di sekitar 14,5 derajat Lintang Utara dan 126,0 Bujur Timur di Laut Filipina, sekitar 1.240 kilometer di utara Tahuna, Sulawesi Utara.

Pergerakan siklon dengan kecepatan mencapai 74 kilometer per jam sempat menarik massa awan potensial, menyebabkan suhu di Indonesia meningkat karena tidak ada awan yang menutupi paparan sinar matahari di khatulistiwa.

Pada akhir Oktober 2024, BMKG mencatat suhu maksimum mencapai 37-38,4 derajat Celsius di beberapa wilayah, termasuk Larantuka di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“La Nina diperkirakan berlangsung mulai November 2024 hingga akhir kuartal pertama 2025,” katanya.

Setelah itu, lanjut Ardhasena, BMKG memprediksi tidak akan ada gangguan iklim yang signifikan di Indonesia. Pada 2025, sekitar 67 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan menerima curah hujan tahunan lebih dari 2.500 mm.

Wilayah ini meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sebagian wilayah Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Di sisi lain, sekitar 15 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan tahunan di atas rata-rata, termasuk sebagian Aceh, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan bagian selatan, serta sebagian wilayah NTT, Maluku, dan Papua bagian tengah.

Namun, BMKG mengimbau agar curah hujan ini dimanfaatkan untuk mengisi cadangan air di waduk, bendungan, dan embung guna mendukung ketahanan air dan energi saat musim kemarau, yang berpotensi menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan pada tahun mendatang.

BMKG juga memprediksi bahwa satu persen wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan bagian barat, Bali, NTT, NTB, Maluku Utara, dan Papua Barat bagian utara, akan mengalami curah hujan di bawah normal pada periode Mei hingga Juli 2025.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here