
MELIHAT sosok-sosok garis keras atau hawkish terkait kebijakan moneter yang akan mengisi kabinet Presiden terilih dari Partai Republik Donald Trump, diduga pendekatan lebih keras akan diberlakukan pada Beijing.
Trump menang telak dalam Pilpres AS 2024 dengan 312 elektoral berbanding 226 perolehan suara lawannya dari Partai Demokrat Kamala Harris setelah ia menang di tujuh swing state, atau negara bagian yang menjadi ajang pertempuran sengit kedua capres.
Di antara pejabat yang diangkat: mantan Direktur Intelijen Nasional John Ratcliffe sebagai Kepala Dinas Rahasia CIA, pembawa acara Fox News yang juga veteran US Army Pete Hegseth sebagai menhan dan anggota Kongres Michael Waltz sebagai Penasehat Keamanan Nasional.
Ketiga tokoh tersebut dikenal sebagai tokoh hawkish atau garis keras di tengah ketatnya persaingan global teutama terkait perang dagang terhadap China.
Trump memilih anggota Kongres Elise Stefanik sebagai Duta Besar AS untuk PBB dan mengisyaratkan, Senator Florida Marco Rubio kemungkinan besar akan diangkat sebagai Menlu.
Kedua tokoh juga dikenal memiliki pandangan kuat yang menganggap China sebagai ancaman utama bagi stabilitas global dan keamanan AS.
Rubio yang pernah dikenakan sanksi oleh China karena mengritik pelanggaran HAM di Xinjiang dan Hong Kong, juga pembela vokal bagi Taiwan dan diyakini akan memperkuat relasi AS-Taiwan di tengah eskalasi ketegangan dengan Beijing.
Pilihan-pilihan itu agaknya sejalan dengan retorika Trump saat kampanye, yang berjanji akan menurunkan ketergantungan ekonomi AS terhadap China dan memperketat kebijakan perdagangan.
Czar Perdagangan
Trump bahkan menunjuk mantan perwakilan dagang AS Robert Lighthizer sebagai “czar perdagangan,” yang dikenal karena perannya dalam perang dagang AS-China di era kepemipinan Trump sebagai presiden ke-45 AS (2017 – 2021).
Lighthizer telah lama menyerukan “decoupling” atau pemisahan dari China dan mengadvokasi tarif yang lebih tinggi untuk produk-produk asal China .
Penguatan tim hawkish kabinet Trump mendapat sorotan dari sekutu AS di Asia Timur, seperti Jepang dan Korea Selatan, yang cenderung mendukung pendekatan keras terhadap China, terutama karena kekhawatiran keamanan regional.
Namun, bagi banyak negara di Asia Tenggara, pilihan itu dapat memicu dilema geopolitik.karena sebagian besar negara di kawasan ini memilih tidak terlibat dalam persaingan langsung antara AS dan China.
Dalam konteks Taiwan, Michael Waltz, veteran pasukan khusus yang juga pendukung peningkatan anggaran pertahanan Taiwan, mengemukakan pentingnya memperkuat pertahanan negara pulau itu.
Trump bahkan menyatakan bahwa Taiwan seharusnya mempertimbangkan peningkatan pengeluaran militernya hingga 10 persen dari PDB sebagai upaya untuk memperkuat kemampuannya menghadapi ancaman China.
Dengan kabinet yang dipenuhi tokoh-tokoh seperti ini, tampaknya kebijakan luar negeri AS akan semakin memprioritaskan penguatan aliansi di kawasan Asia-Pasifik sebagai upaya untuk mengimbangi pengaruh China.
Bagi RI, relasi dengan AS yang sejauh ini baik-baik saja agaknya juga tidak banyak berubah, walau seperti yang bakal dialami banyak negara, jika kebijakan moneter ketat diberlakukan Trump, bisa kena imbasnya. (Kompas.com/ns)



