
GAZA – Warga Palestina di Jalur Gaza berharap gencatan senjata segera terjadi di wilayah mereka setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada Rabu (27/11/2024).
“Saya senang rakyat Lebanon telah mencapai gencatan senjata. Mereka layak hidup damai. Saya berharap ini menjadi awal solusi bagi kami di Gaza untuk mengakhiri perang ini,” kata Hassan Owadia, seorang pengungsi Palestina dari Khan Younis, kepada Xinhua.
Hassan, seorang ayah dari empat anak berusia 32 tahun, mengungkapkan rasa frustrasinya setelah lebih dari setahun hidup dalam situasi perang, pembunuhan, dan kelaparan.
“Dunia hanya menyaksikan tanpa melakukan apa pun untuk mengakhiri penderitaan luar biasa yang kami alami di Gaza,” keluhnya.
Saat ini, ia tinggal dalam kondisi sulit di Mawasi, Khan Younis, setelah beberapa kali harus mengungsi akibat perang.
“Kami kehilangan semua hak asasi manusia karena perang ini, dan kami tidak tahu kapan semuanya akan berakhir. Sering kali, saya merasa kami tidak akan selamat. Namun, gencatan senjata di Lebanon memberi saya harapan bahwa perang di sini juga akan berakhir,” tuturnya.
Hani Hamad, pengungsi Palestina lainnya dari kamp al-Nuseirat di Gaza tengah, menilai keberhasilan gencatan senjata di Lebanon sebagai hasil dari upaya bersama.
Sementara itu, Salma al-Rifae, seorang dosen universitas di Gaza, menyerukan persatuan di antara rakyat Palestina untuk menghadapi krisis yang terus berlangsung.
“Di Gaza, banyak yang hanya fokus pada agenda mereka sendiri, memungkinkan Israel melanjutkan agresinya. Kita harus mengutamakan keselamatan rakyat kita daripada kepentingan politik atau partisan,” tegas Salma (53), ibu dari tujuh anak.
Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pada Rabu dini hari waktu setempat. Namun, di Gaza, Israel masih melanjutkan serangan besar-besaran terhadap Hamas. Insiden tersebut menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyebabkan 250 orang disandera.
Sementara itu, jumlah korban tewas di Gaza akibat serangan Israel terus meningkat. Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa hingga Rabu, 44.282 warga Palestina telah meninggal akibat konflik ini.




