
DHAKA – Dalam beberapa pekan terakhir, suhu yang menurun drastis di Bangladesh telah memperburuk kualitas udara di ibu kota Dhaka, menciptakan penderitaan yang mendalam bagi jutaan penduduknya. Dhaka, yang selama ini menghadapi masalah polusi udara parah, tercatat sebagai salah satu kota dengan udara terburuk di dunia.
Pada Kamis (12/12/2024), indeks kualitas udara (AQI) Dhaka mencapai angka 206, menduduki peringkat ketiga secara global. Sebelumnya, pada Selasa (10/12/2024), kota ini berada di peringkat pertama dengan skor AQI mencapai 241.
Kategori AQI ini menunjukkan bahwa udara di Dhaka sangat tidak sehat hingga berbahaya, terutama bagi kesehatan masyarakat. AQI dengan rentang 151-200 dianggap tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 masuk kategori berbahaya.
Pemerintah sementara Bangladesh pada Selasa mengimbau masyarakat untuk memakai masker saat berada di luar rumah dan menyarankan individu yang rentan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan kecuali sangat mendesak.
Menurut Asadullah Al Ghalib dari Asosiasi Pengacara Lingkungan Bangladesh, sumber utama polusi di Dhaka berasal dari aktivitas konstruksi, emisi kendaraan, dan polusi rumah tangga, yang semakin parah selama musim dingin.
Dia menegaskan perlunya tindakan segera, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang, untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk polusi udara, terutama karena jumlah pasien gangguan pernapasan di rumah sakit dan klinik terus meningkat.
Para ahli mengungkapkan bahwa polusi udara di Dhaka semakin parah seiring penurunan suhu dan kondisi meteorologi lainnya, seperti melambatnya kecepatan angin dan munculnya kabut. Angin kering dari barat laut diperkirakan akan menurunkan suhu lebih jauh, memperburuk kualitas udara.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polusi udara menyebabkan kematian sekitar tujuh juta orang setiap tahunnya, sebagian besar akibat penyakit seperti strok, penyakit jantung, kanker paru-paru, serta infeksi saluran pernapasan.
Mohammad Mushtuq Husain, mantan penasihat Institut Epidemiologi, Pengendalian Penyakit, dan Penelitian di Bangladesh, menjelaskan bahwa pekerja harian yang terpapar konsentrasi tinggi PM2,5 sangat rentan terhadap gangguan kesehatan serius, termasuk infeksi saluran pernapasan, penyakit jantung, dan kanker paru-paru.
Syeda Rizwana Hasan, penasihat Kementerian Lingkungan Hidup Bangladesh, menyebutkan bahwa pemerintah telah mengembangkan Rencana Aksi Pengelolaan Kualitas Udara Nasional untuk mengatasi sumber polusi, meningkatkan pemantauan, dan memperketat penegakan hukum.
Rencana ini mencakup strategi jangka panjang untuk mengurangi tingkat polusi melalui promosi teknologi bersih di sektor industri, transportasi, dan pembangunan perkotaan, serta mendukung keberlanjutan lingkungan di seluruh wilayah Bangladesh.




