PARIAMAN – Dua anak Warga Desa Palak Paneh, Kota Pariaman, Sumatera Barat, Adi Darma Saputra (12) dan Ardi Maulana (13) terkena penyakit aneh setelah gempa 2009. Keluarga ini membutuhkan bantuan.
Ibu korban, Watriyanti (36) mengatakan sejak gempa tersebut dua anaknya mengalami penyakit langka yang menyebabkan keterbelakangan mental dan lumpuh total.
“Kami tidak bisa berbuat banyak, pengobatannya sejak kejadian tersebut sudah menghabiskan biaya hingga Rp30 juta lebih,” tambahnya.
Dua anaknya tersebut memiliki penyakit yang berbeda. Saputra dinyatakan oleh dokter setempat mengalami autis sindrome, sedangkan Ardi lumpuh.
Selain diduga mengalami penyakit autis sindrome, Saputra juga sering memukul kepalanya sendiri sehingga menimbulkan bengkak dan lebam.
Perilaku tersebut dilakukanya apabila merasa tidak nyaman dan terganggu oleh sesuatu hal.
“Kalau dia marah dan sedih memang suka memukul kepala hingga luka lebam dan bengkak,” ujarnya.
Watriyanti menceritakan pada saat gempa terjadi ia dan anak-anaknya sedang berada di dalam rumah. Pada saat goncangan gempa 7,6 Skala Richter (SR) tersebutlah Ardi dan saudaranya tertimpa rerentuhan bangunan setinggi 50 centimeter.
“Ardi, kami temukan di dalam lemari, sedangkan Saputra tertimbun di dalam reruntuhan bangunan,” jelasnya.
Sejauh ini kata, Watriyanti, seperti dikutip dari Harian Singgalang, Ia hanya memperoleh bantuan dari pihak Badan Amil Zakat (BAZ) setempat sebesar Rp2,5 juta dan Rp7,5 juta untuk biaya perbaikan rumah oleh pemerintah pusat tapi belum untuk mengobati anaknya.





