Kota Green Energy di Bebagai Negara: Kurangi Polusi hingga Tekan Pengangguran

Ilustrasi polusi udara. (Foto: freepik)

JAKARTA – Lebih dari 50% populasi dunia tinggal di daerah perkotaan, dan pada tahun 2050. Angka ini diproyeksikan mencapai hampir 70%.

Kota-kota besar memiliki kebutuhan yang besar akan air, makanan, dan energi. Permintaan yang tinggi terhadap sumber daya ini menciptakan tantangan besar bagi para peneliti di tengah perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.

Untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan, revolusi dalam sistem pasokan energi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam transisi global menuju energi hijau. Bagi masyarakat, ini adalah perubahan yang paling terasa.

Kota-kota memiliki peran penting dalam memimpin transisi ini. Sebagai pusat populasi dan aktivitas ekonomi, kota memiliki kapasitas untuk mengubah cara mereka mengonsumsi dan menghasilkan energi.

Berikut ini beberapa kota di negara-negara maju yang sudah menerapkan penggunaan green energy seperti dirangkum KBKNews, Jumat (7/2/2025):

1. Lancaster: Menuju Kota Netral Karbon

Salah contoh nyata dari upaya ini dapat dilihat di Lancaster, California. Kota ini berambisi menjadi komunitas pertama di Amerika Serikat yang mencapai netral karbon. Dengan populasi sekitar 175.000 jiwa, Lancaster memulai perjalanannya menuju energi hijau pada tahun 2009. Transformasi ini tidak hanya melibatkan perubahan teknologi, tetapi juga pergeseran pola pikir.

Seperti dilansir dari DW, Wali Kota Lancaster, Rex Parris, memulai dengan memasang panel tenaga surya di semua bangunan pemerintah. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk penerangan umum, dan penghematan biaya yang dihasilkan dialokasikan untuk memasang lebih banyak panel surya di rumah-rumah penduduk.

Bahkan, sistem energi terbarukan ini menjadi wajib untuk bangunan baru. Secara bertahap, Lancaster membangun jaringan energi alternatif yang mandiri. Kelebihan listrik yang dihasilkan digunakan untuk memproduksi hidrogen, yang kemudian menjadi bahan bakar untuk transportasi umum.

Hasilnya, Lancaster tidak hanya menjadi kota yang mandiri energi, tetapi juga menarik investasi dari perusahaan-perusahaan besar berkat biaya listrik dan hidrogen yang murah. Tingkat pengangguran yang sempat mencapai 17% pada tahun 2009 turun drastis menjadi sekitar 6% pada tahun 2023. Kota ini menjadi contoh nyata bahwa energi terbarukan tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi.

2. Wunsiedel: Mengintegrasikan Industri Lokal dengan Energi Terbarukan

Di Jerman, kota kecil Wunsiedel di Bavaria juga menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat diintegrasikan dengan industri lokal. Wunsiedel memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah, seperti kayu, biomassa, matahari, dan angin, untuk menciptakan sistem energi sirkular. Kelebihan energi dari tenaga surya dan angin digunakan untuk memproduksi pelet kayu dari limbah kehutanan. Pelet ini kemudian dibakar untuk menghasilkan panas atau listrik.

Sistem ini menciptakan ekonomi energi lokal yang dapat ditingkatkan skalanya, memenuhi kebutuhan listrik, panas, dan mobilitas. Wunsiedel membuktikan bahwa dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal, kota-kota dapat menciptakan infrastruktur energi hijau yang efisien dan berkelanjutan.

3. Copenhagen: Laboratorium Hidup untuk Inovasi Energi

Copenhagen, ibu kota Denmark, juga tidak ketinggalan dalam upaya menciptakan sistem energi yang lebih efisien. Distrik Nordhavn yang baru dibangun menjadi tempat uji coba proyek “EnergyLab”, sebuah laboratorium hidup untuk penelitian siklus energi inovatif. Bangunan-bangunan di Nordhavn dirancang untuk menyimpan panas, mengurangi kebutuhan energi pada jam-jam sibuk. Selain itu, limbah panas dari bisnis komersial di sekitar distrik dikompresi dan disalurkan ke sistem pemanas distrik, yang memberikan panas ke bangunan-bangunan sekitarnya.

Proyek ini menunjukkan bagaimana energi dapat digunakan secara berulang, menciptakan siklus yang efisien dan menguntungkan bagi seluruh komunitas. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan penggunaan energi, membuatnya lebih kompetitif secara harga, dan menjadi alternatif bagi jaringan energi terpusat yang besar.

4. Oslo: Menuju Kota Bebas Emisi

Oslo, ibu kota Norwegia, memiliki ambisi besar untuk menjadi kota pertama di dunia yang bebas emisi pada tahun 2030. Wali Kota Marianne Borgen telah mengimplementasikan serangkaian kebijakan konkret untuk mencapai tujuan ini.

Salah satunya adalah dengan membangun sekolah dan taman kanak-kanak baru yang dilengkapi panel surya, yang menghasilkan lebih banyak energi daripada yang mereka butuhkan. Kelebihan energi ini kemudian disalurkan ke bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Oslo juga menjadi pelopor dalam mobilitas listrik dan telah membuat kemajuan signifikan dalam membuat sektor konstruksinya menjadi netral karbon. Dengan memanfaatkan energi hidro yang melimpah, Norwegia berencana untuk mencapai netral karbon secara nasional pada tahun 2030.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here