JAKARTA – Banjir dahsyat mengepung wilayah Bekasi. Tak hanya kawasan kota saja tapi juga di kabupaten. Banjir tersebut seakan merefleksikan tata kota yang semrawut selama ini.
Sebanyak delapan kecamatan terendam banjir di Kota Bekasi pada Selasa (4/5/2025). Banjir itu diawali dengan hujan deras sejak Senin (3/5/2025) malam.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengaku sudah mengingatkan potensi banjir di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sejak akhir Februari lalu.
Dwikorita menjelaskan BMKG sudah mendeteksi kumpulan awan Cumulonimbus yang memenuhi Jawa Barat hingga Jakarta beberapa hari sebelum banjir. Banjir dahsyat ini disebut berbeda dengan banjir yang terjadi pada 2020.
“Jadi fenomenanya tidak sama persis, tapi yang sama adalah fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation), kemudian juga sirkulasi siklonik juga terjadi di wilayah Samudra Hindia barat daya Bengkulu, sehingga mempengaruhi gelombang tinggi dan karena ada gelombang Rossby,” tutur dia, Selasa.
Tata Kota Dikritisi
Banjir juga merendam beberapa wilayah elite di Bekasi. Salah satunya kawasan Kemang Pratama yang dekat dengan zona hijau serta dekat sungai.
Kawasan itu dekat dengan Kali Bekasi yang aliran airnya berasal dari Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi. Berbeda dengan aliran Kali Ciliwung yang bisa dipantau melalui Pintu Air Manggarai, Bekasi disebut belum mempunyai pintu air yang layak.
Daerah resapan yang menjadi permukiman merupakan biang kerok parahnya banjir di Bekasi. Air hujan dan luapan dari kali tidak bisa diserap tanah sehingga meluber ke jalanan, lalu menggenangi rumah warga.
Tanggul atau Naturalisasi Sungai
Perdebatan juga memperdebatkan antara naturalisasi sungai dan membangun tanggul di sungai. Konsep naturalisasi sungai sempat dipoplerkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Konsep itu merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi sungai seperti aslinya, dengan tetap memperhatikan kapasitas tampung airnya. Berbeda dengan ditanggul, sungai dibiarkan sesuai ekosistemnya.
Berdasarkan data dari DW, sungai-sungai di India ternyata bisa berubah bentuk dari waktu ke waktu. Perubahan bentuk ini dipengaruhi oleh derasnya aliran sungai. Oleh karena itu, seharusnya kawasan sekitar sungai harus steril dari permukiman.
Komitmen Pemerintah
Istri Wali Kota Bekasi Tri Adhianto sempat dikritik keras karena mengungsi di hotel mewah saat banjir. Unggahan video di media sosial itu dinilai tidak menunjukkan empati.
Tri mengungkapkan komitmennya untuk melakukan penghijauan di Bekasi. Menurutnya, proses itu membutuhkan waktu agar bisa mengurangi dampak banjir. Penghijauan tidak hanya dilakukan di Bekasi tapi juga di kawasan hulu seperti Bogor.
Dia juga mendorong adanya modifikasi cuaca. Wali Kota yang diusung PDIP itu berharap berbagai cara tersebut bisa mengurangi banjir.
“Perlu penghijauan kembali terutama di wilayah Bogor. BMKG juga dapat memodifikasi curah hujan sehingga curah hujan yang turun di kawasan pegunungan dapat dikurangi,” katanya, Selasa.




