JAKARTA, KBKNEWS.id – Iran menyatakan Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk pelayaran komersial selama masa gencatan senjata.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan lalu lintas kapal masih sangat minim, memunculkan keraguan dari pelaku industri maritim global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kapal-kapal dapat melintas melalui jalur aman yang telah ditentukan otoritas Iran.
Pernyataan ini disampaikan di tengah berlangsungnya gencatan senjata sementara di kawasan, menyusul konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu.
Meski demikian, Amerika Serikat disebut masih mempertahankan blokade laut terhadap Iran hingga tercapainya kesepakatan damai. Situasi ini membuat status keamanan Selat Hormuz tetap tidak pasti.
Sejumlah pihak internasional pun belum sepenuhnya yakin jalur tersebut aman dilalui. Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan masih perlu verifikasi lebih lanjut, mengingat adanya ancaman ranjau laut serta potensi serangan terhadap kapal.
Bahkan, beberapa kapal dilaporkan mematikan sistem identifikasi untuk menghindari risiko menjadi target.
Di dalam negeri Iran sendiri, pernyataan pembukaan Selat Hormuz menuai kritik. Sejumlah media menilai pengumuman tersebut belum jelas, terutama jika blokade AS masih berlangsung. Ketua Parlemen Iran juga menegaskan bahwa selat tersebut tidak akan benar-benar terbuka selama tekanan militer terus berlanjut.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan ini.
Gangguan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah mengguncang pasar energi dan mendorong lonjakan harga.
Sempat terjadi penurunan harga minyak setelah pengumuman Iran, namun ketidakpastian masih membayangi pasar.
Sementara itu, Inggris dan Prancis berencana memimpin misi internasional untuk melindungi jalur pelayaran di kawasan tersebut, meski pengamat menilai risiko keamanan dalam waktu dekat masih tinggi.




