
KEBIJAKAN pengenaan kenaikan tarif secara besar-besaran yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donad Trump berisiko menyebabkan resesi global dalam 12 bulan ke depan.
Hasil penelitian terbaru Goldman Sachs, menurut laporan harian the Independent (31/3), kemungkinan terjadinya resesi mencapai 35 persen, naik dari prediksi sebelumnya yang hanya 20 persen.
Kekhawatiran ini semakin meroket menjelang pemberlakuan tarif 25 persen pada mobil-mobil asing mulai Rabu (2/4). Kebijakan yang dikenakan terhadap semua negara itu dipromosikan Gedung Putih sebagai bagian dari Liberty Day yang menandai upaya Trump untuk menekan ketergantungan AS pada produk impor.
Trump dikabarkan juga mendorong penerapan tarif tambahan 20 persen pada semua mitra dagang AS, bertolak belakang dengan janji kampanyenya untuk menurunkan harga konsumen, sesuai prediksi mayoritas ekonom yang mengingatkan, hal itu jsuteru bakal menaikkan harga barang bagi warga AS.
Namun Trump agaknya tidak khawatir dengan kemungkinan kenaikan harga. “Saya tidak peduli. Saya berharap mereka menaikkan harga, karena jika mereka melakukannya, orang-orang akan membeli mobil buatan AS,” ujar Trump.
Kebijakan tarif ini dilaporkan telah menyebabkan volatilitas besar di pasar keuangan di mana harga mobil diprediksi naik drastis dan indeks saham utama AS anjlok signifikan sebelum akhirnya mengalami sedikit pemulihan. Secara keseluruhan, indeks utama di AS turun beberapa persen sepanjang bulan ini.
Indeks Sentimen Konsumen anjlok
Sementara itu, indeks sentimen konsumen menurun hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor utama di balik meningkatnya kecemasan konsumen adalah pendekatan Trump yang tidak konsisten terhadap tarif sejak awal menjabat.
Sebelumnya, Trump telah mengenakan tarif 25 persen pada baja dan aluminium, 10 persen pada barang-barang dari China, serta 25 persen pada produk Kanada dan Meksiko, meskipun penerapan tarif terhadap kedua negara ditunda dua kali.
Sementara itu, China, Jepang da Koera Selatan dilaporkan telah mencapai kesepakatan, Minggu (30/3) untuk memperkuat perdagangan bebas tengah ancaman tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan ini tercapai dalam pertemuan tingkat tinggi pejabat perdagangan, yang pertama kali digelar dalam lima tahun terakhir menjelang dimulainya tarif baru yang dikenakan pada sejumlah besar barang impor dari AS, termasuk mobil, truk, dan suku cadang mobil.
Korea Selatan dan Jepang, yang merupakan eksportir utama mobil serta China yang juga terdampak tarif baru, turut terlibat dalam pembicaraan ini. Ketiga negara diwakilai oleh menteri perdagangan yakni Ahn Duk-geun (Korsel) , Yoji Muto (Jepang), dan Wang Wentao (China).
Ketiga negara sepakat untuk mempercepat negosiasi perjanjian perdagangan bebas trilateral yang komprehensif dan menciptakan lingkungan perdagangan dan investasi yang dapat diprediksi, sebagaimana dikatakan dalam pernyataan resmi.
Ahn menegaskan pentingnya ketiga negara untuk merespons tantangan global secara bersama-sama. “Lingkungan ekonomi dan perdagangan saat ini ditandai dengan meningkatnya fragmentasi ekonomi global,” ujar Ahn.
Sementara itu, Yasuji Komiyama, pejabat perdagangan Jepang, mengungkapkan ketidakpastian global semakin meningkat. “Lingkungan internasional terus berubah, dan ketidakpastian semakin besar,” tambahnya, dikutip dari AFP.
Pejabat China, Wang Liping, menyuarakan keprihatinan tentang meluasnya unilateralisme dan proteksionisme, dan menekankan ketiga negara memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan sistem perdagangan multilateral.
Secara keseluruhan, ketiga negara ini mewakili 20 persen populasi dunia, 24 persen ekonomi global, dan 19 persen perdagangan barang global.
Dalam kesempatan tersebut, Ahn dari Korea Selatan juga menegaskan proteksionisme bukanlah solusi. Ia mendesak upaya untuk memastikan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) berfungsi dengan baik untuk menjaga stabilitas dan prediktabilitas perdagangan global.
Presiden Trump yang telah menjanjikan tarif baru mulai 2 April, mengatakan bahwa tarif akan disesuaikan dengan masing-masing mitra dagang untuk mengatasi praktik perdagangan yang dianggap tidak adil.
Namun, ia juga memberikan pernyataan yang memberi harapan dengan menyebutkan adanya fleksibilitas, yang disambut positif oleh pasar. Setelah pertemuan trilateral tersebut, para menteri melanjutkan dengan pertemuan bilateral.
Tantangan relasi Jepang – Korsel
Sementara itu Memperdag Jepang, Muto berharap kerja sama antara negaranya dan Korea Selatan dapat terus berlanjut meskipun adanya tantangan politik dan diplomatik.
“Kadang-kadang mungkin ada kesulitan, tetapi saya berharap kegiatan sosial dan ekonomi tetap berjalan lancar, memungkinkan bisnis kami beroperasi tanpa hambatan,” ungkap Muto.
Kedua negara tersebut memang telah lama terlibat dalam perselisihan historis, salah satunya mengenai penggunaan kerja paksa oleh Jepang selama pendudukan di Semenanjung Korea.
Ketegangan semakin meningkat pada 2018, setelah Mahkamah Agung Korsel memutuskan agar perusahaan-perusahaan Jepang memberikan kompensasi kepada korban kerja paksa masa perang, yang memicu serangkaian tindakan ekonomi balasan.
Para ahli menilai tarif AS, khususnya pada sektor otomotif, akan sangat berdampak pada kedua negara yang sangat bergantung pada ekspor ke AS.
Ahn sendiri menyampaikan kekhawatirannya dengan menyebutkan pada pada Kamis lalu (27/3), 50 persen ekspor mobil negaranya ditujukan ke AS, sehingga tarif tersebut berpotensi merusak industri otomotif secara signifikan.
Sementara Jepang, sebagai rumah produsen mobil terlaris di dunia, Toyota, juga menyadari bahwa kesehatan industri otomotifnya sangat berpengaruh pada berbagai sektor, termasuk manufaktur suku cadang, baja, dan microchip.
Resesi sudah di hadapan mata. Dunia ternasuk RI harus siap-siap mengencangkan ikat pinggang lagi. (The independent/AFP/ns)




