Sulit Kembali Semangat Setelah Liburan? Mungkin Kamu Alami Post Holiday Blues

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock/fizkes)

JAKARTA – Kembali menjalani rutinitas setelah libur panjang sering kali menimbulkan kondisi yang dalam psikologi dikenal sebagai post holiday blues. Kondisi ini terjadi akibat perbedaan mencolok antara suasana santai dan bebas saat liburan dengan rutinitas harian yang penuh tanggung jawab.

Psikolog klinis dewasa lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, M.Psi., menjelaskan bahwa meskipun banyak orang berharap liburan dapat memberikan kebahagiaan jangka panjang, kenyataannya, efek positif dari liburan biasanya hanya bersifat sementara setelah seseorang kembali ke aktivitas normal.

“Setelah menikmati liburan yang menyenangkan, banyak orang mengalami post-holiday blues, yaitu perasaan malas, kurang bersemangat, atau bahkan stres saat harus kembali ke rutinitas kerja atau sekolah. Ini wajar terjadi karena adanya kesenjangan besar antara suasana liburan yang bebas dengan rutinitas yang penuh tanggung jawab,” kata Teresa dilansir dari Antara.

Menurutnya, liburan memberikan dampak positif karena sejumlah faktor, seperti perjalanan ke tempat yang telah lama dinantikan yang dapat meningkatkan suasana hati. Selain itu, momen liburan juga menjadi saat berharga untuk berkumpul bersama keluarga, terutama bagi mereka yang merantau.

Liburan identik dengan kebebasan, fleksibilitas, dan kesempatan untuk mengeksplorasi hal-hal baru—berbanding terbalik dengan rutinitas harian yang cenderung kaku dan penuh tanggung jawab.

Maka, tak heran jika setelah kembali, seseorang bisa merasa hampa atau kehilangan semangat karena perubahan suasana yang drastis.

“Liburan sering kali memberikan excitement tinggi, terutama jika itu adalah perjalanan impian atau momen berkumpul dengan keluarga yang jarang ditemui. Setelah kembali, terjadi gap emosional yang besar, sehingga muncul perasaan kosong atau kehilangan,” katanya.

Faktor lain yang turut memicu post holiday blues adalah kelelahan fisik akibat perjalanan jauh, jet lag, dan beban pekerjaan yang menumpuk setelah liburan.

Meskipun biasanya bersifat sementara dan bisa membaik dalam beberapa hari, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius seperti kecemasan, depresi, atau burnout jika tidak ditangani.

Teresa mengingatkan untuk waspada jika mengalami gejala seperti sulit konsentrasi dalam jangka waktu lama, perasaan sedih atau cemas yang tak kunjung membaik, gangguan tidur, perubahan pola makan drastis, serta hilangnya minat terhadap aktivitas sehari-hari.

“Jika gejala di atas berlangsung lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, membuat sulit bekerja, belajar, atau berinteraksi dengan orang lain, maka sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental seperti psikolog,” tuturnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here