BANDUNG-Cuaca ekstrem masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Kota Bandung dan sekitarnya.
Kendati Juni seharusnya sudah kemarau, namun Bandung masih berpotensi turun hujan dengan intesitas ringan hingga lebat dalam durasi singkat pada musim kemarau ini. Masyarakat diminta waspada terhadap kemungkinan potensi bencana termasuk angin puting beliung.
“Kota Bandung dan sekitarnya, pada umumnya sudah memasuki musim kemarau mulai Juni lalu. Meski demikian hujan masih berpotensi turun,” ungkap Peneliti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Bandung, Muhamad Iid Mujtahiddin, seperti dilansir PR online, Rabu (21/7).
Dikatakan Iid ada beberapa faktor yang mendukung ke arah sana. Misalnya adanya fenomena La Nina dari Juli hingga Desember mendatang, walaupun katagorinya lemah. “La Nina sempat masuk katagori moderat pada Juni lalu,” katanya.
Fenomena La Nina menurut Iid mengakibatkan Kota Bandung dan sekitarnya masih mendapatkan suplai air hujan. Dampaknya selama periode musim kemarau ini berpotensi turun hujan.
Kondisi lainnya yang mempengaruhi turun hujan tersebut kata Iid dilihat dari suhu muka laut di selatan perairan Jawa Barat cenderung hangat. Dampaknya berpotensi terbentuknya awan hujan.
“Juga ada fenomena dipole mode pada Juni hingga November mendatang dengan kondisi kuat negarif. Artinya wilayah Indonesia terutama bagian barat akan mendapatkan suplai air hujan,” tuturnya.
Iid menurutkan pada musim kemarau sekarang berdasarkan prakiraan BMKG, curah hujan pada Juli hingga September mendatang, umumnya di atas rata-rata. Untuk itu, waspada terhadap kemungkinan hujan lebat dengan durasi singkat. “Bisa disertai petir atau kilat dan angin kencang sehingga berpotensi terjadi gerakan tanah (longsor), banjir atau genangan air. Kondisi karakter tanah kering sehingga mudah tergerus air yang turun secara lebat dalam durasi singkat,” ungkapnya.




