Perang India – Pakistan, yang menang China

Saham Chengdu Aircraft Corp. China melonjak setelah skuadron pesawat tempur buatannya yang digunakan AU Pakistan dilaporkan merontokkan tiga peawat Rafale Prancis, dan masing-masing satu Sukhoi SU-30 dan MiG-29 eks Rusia/Soviet milik AU India (6/5) (foto China miltary)

PERANG besar antara dua negara bertetangga di Asia Selatan yakni India dan Pakistan terkait isu wilayah sengketa Kashmir pecah lagi 6 Mei lalu, belum ada yang kalah atau menang, kecuali saham industri pesawat China Chengdu yang melonjak karena munculnya persepsi keunggulan pesawat buatannya.

India melancarkan serangan rudal dan artileri ke wilayah Pakistan (6/5)  sebagai balasan atas serangan, diduga oleh kelompok teroris dukungan Pakistan yang menewaskan 26 turis (mayoritas India) di wilayah Kashmir India  (22/4).

Konflik antara kedua negara dengan kekuatan nuklir itu hanya berlangsung selama empat hari, lalu diakhiri  dengan kesepakatan gencatan senjata (11/5).

Sebelumnya, India vs Pakistan terlibat empat kali perang besar yakni pada 1947, 1965 dan 1971dan 1990, hanya pada 1971 trkait pemisahan diri Bangladesh dari Pakistan, selebihnya terkait isu Kashmir.

India mengklaim, operasinya  untuk melumpuhkan infrastruktur teroris di sejumlah titik di wilayah Pakistan (6/5) telah berhasil dan semua awak dan pesawatnya kembali ke pangkalan dengan selamat.

New Delhi menuding kelompok bersenjata yang berbasis di Pakistan sebagai dalang serangan tersebut, namun  Islamabad membantah keras tuduhan itu.

Operasi Sindoor yang dilancarkan India berkembang menjadi pertempuran udara terbuka. Jet tempur, rudal jarak jauh, dan drone dikerahkan oleh kedua negara.

India mengandalkan jet tempur Rafale buatan Perancis,  Sukhoi SU-27 Flanker eks-Rusia,dan Mig-29 Fulcrum eks-Uni Soviet, sedangkan Pakistan mengerahkan J-10 dan JF-17, yang dibuat bersama China.

Saling merudal

Kedua pihak menyatakan, pesawat mereka tidak melintasi perbatasan secara langsung dan hanya meluncurkan rudal dari kejauhan, di posisi negara masing-masing.

Islamabad mengeklaim telah menembak jatuh sedikitnya enam jet tempur India, termasuk tiga Rafale, satu MiG-29 dan Sukhoi SU-30, tidak diketahui satunya lagi.

“Kerugian adalah bagian dari pertempuran. Kami telah mencapai tujuan yang kami pilih, dan semua pilot kami kembali ke rumah,” ujar Marsekal Udara AK Bharti dari AU  India merespons klaim Pakistan.

Di sisi lain, India menyatakan telah menewaskan lebih dari 100 anggota kelompok militan dalam serangan yang menyasar markas Lashkar-e-Taiba dan Jaish-e-Mohammed di wilayah Pakistan.

Laporan Reuters mengutip pejabat AS menyebutkan, jet J-10C buatan China kemungkinan digunakan Pakistan untuk menembakkan udara-ke-udara  (Air to Air -AA).

Situasi ini menjadi ajang unjuk kemampuan senjata China di medan tempur nyata, sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya. “Pertempuran udara merupakan iklan besar bagi industri senjata China. Hingga saat ini, China tidak memiliki kesempatan untuk menguji dalam duel udara sesungguhnya,” kata Zhou Bo, pensiunan kolonel senior Tentara Pembebasan Rakyat China, kepada BBC.

Saham Chengdu naik, Dassault anjlok

Saham Chengdu Aircraft, produsen J-10, dilaporkan melonjak hingga 40 persen setelah peran jet ini mencuat dalam konflik, sebaliknya saham Dassault produsen Rafale anjlok.

Namun, sejumlah analis menilai masih terlalu dini menyimpulkan keunggulan pesawat J-10 China. Di medsos China, beredar narasi bahwa jet J-10 berhasil menjatuhkan tiga pesawat Rafale, meski belum ada konfirmasi resmi.

“Saat ini persepsi jauh lebih penting daripada kenyataan. Jika dilihat dari sudut pandang seperti itu, pemenang utamanya adalah China,” ujar Carlotta Rinaudo, peneliti  Studi Keamanan di Verona.

“China membuat perbedaan penting dalam konflik India–Pakistan terkini,” kata analis keamanan Pakistan, Imtiaz Gul.

Kejadian itu mengejutkan para perencana India yang  mungkin tidak membayangkan kedalaman kerja sama China – Pakistan menghadapi pertempuran udara yang bisa menguncang peta peta perdagangan senjata global.

Saat ini, AS  masih menjadi eksportir senjata terbesar  dunia, disusul Rusia, Prancis, dan China di posisi keempat, sedangkan pasar China adalah negara-negara  berkembang seperti Pakistan dan Myanmar.

Myanmar sempat menghentikan operasional jet JF-17 pada 2022 karena masalah teknis, juga  Nigeria yang melaporkan malafungsi pada jet tempur F-7 eks-China.

Sebaliknya, India juga menunjukkan kemampuan militer yang tak bisa diremehkan.

Pada dini hari 10 Mei lalu, AU India meluncurkan rudal ke 11 pangkalan udara strategis di Pakistan, termasuk Nur Khan di Rawalpindi, dekat markas militer Pakistan, dan yang terjauh, Bholari, 140 kilometer dari Karachi.

Ia menilai, operasi India kali ini sesuai dengan standar militer, yakni menghancurkan sistem pertahanan dan radar lebih dulu sebelum menghantam target darat.

“Jika konflik berkepanjangan, Pakistan memerlukan waktu  lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun kembali fasilitas-fasilitas yang dihancurkan India, “ ujarnya.

Meskipun kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata, kemampuan J-10C dalam menjatuhkan jet tempur Dassault Rafale masih banyak diperbincangkan.

Berikut ini adalah spesifikasi jet tempur J-10C buatan China.

Radar AESA

Teknologi Radar AESA ((Active Electronically ScannedArray) adalah salah satu keunggulan utama  J-10

C karena  selain berjangkauan deteksi  jauh, juga mampu mengunci target dengan presisi tinggi, serta kebal terhadap gangguan elektronik musuh.

Ini memberi keuntungan signifikan dalam pertarungan jarak sedang hingga jauh. Datalink Canggih J-10C juga dilengkapi sistem rudal PL-15 berjangkauan sampai 200 km sehingga mampu  menyerang lawan sebelum menyadari kehadirannya.

Didukung datalink satelit dan komunikasi jaringan real-time, pilot J-10C bisa berbagi data target antarpesawat langsung, menciptakan keunggulan taktis dalam duel udara.

Meskipun Rafale juga dikenal gesit, J-10C memiliki konfigurasi sayap canard-delta, yang membuatnya sangat mudah dikendalikan dalam pertempuran jarak dekat.

Semuanya adalah hasil rancang bangun yang mengutamakan kelincahan daripada stabilitas, cocok untuk skenario pertempuran cepat.

Jika Rafale adalah “mobil sport super mewah”, J-10C adalah “mobil balap efisien dengan performa tak kalah cepat.”

Perang merupakan malapetaka bagi umat manusia, namun juga menguntungkan industri persenjataan yang jika buatannya terbukti unggul atau “combat proven” bakal laris di pasaran. (BBC/Reuters)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here