
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengingatkan mitranya, PM Israel, Benjamin Netanyahu, agar tidak buru-buru menyerang Iran di tengah negosiasi AS – Iran terkait program nuklir negara itu .
“Saya katakan kepadanya, serangan saat ini sangat tidak tepat karena kami (AS dan Iran-red ) sudah sangat dekat dengan titik solusi,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (28/5) waktu setempat seperti dilansir Reuters.
Pernyataan Trump tersebut muncul setelah kantor berita The New York Times melaporkan bahwa Israel tengah mempertimbangkan serangan terhadap fasilitas pengayaan nuklir utama Iran Iran.
Mengutip pejabat yang mengetahui situasi, laporan itu menyebut bahwa Israel khawatir Trump terlalu ingin segera mencapai kesepakatan dengan Iran, apslagi jika sampai membiarkan fasilitas nuklir Iran tersebut tetap beroperasi.
Israel sangat menentang kesepakatan sementara yang mengizinkan Iran mempertahankan infrastruktur nuklirnya selama berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun sambil menunggu kesepakatan akhir.
Menanggapi laporan tersebut, kantor Netanyahu hanya mengeluarkan pernyataan singkat dengan mengatakan, “Berita palsu.”
Namun, The New York Times menegaskan bahwa laporan mereka berdasarkan informasi dari sumber yang sangat dekat dengan proses pembicaraan, sebaliknya, Iran mengeklaim akan merespons dengan keras setiap serangan.
Pengayaan uranium
Pengayaan uranium masih jadi perdebatan kedua negara AS tetap bersikeras, Iran harus menghentikan program pengayaan uraniumnya secara total karena dianggap bisa membuka jalan menuju senjata nuklir.
Namun, Iran menolak tuntutan ini dan menyatakan bahwa program nuklirnya murni untuk keperluan sipil, seperti pembangkit listrik dan riset medis.
Iran bahkan menyebut tuntutan Washington untuk menghentikan pengayaan sebagai bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan nasionalnya.
Teheran mengusulkan agar AS secara terbuka mengakui hak Iran untuk memperkaya uranium dalam kerangka Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), serta mencairkan pendapatan minyak Iran yang dibekukan akibat sanksi AS.
Menurut Iran, jika persyaratan tersebut bisa diterima, maka “pemahaman politik” yang akan menjadi dasar menuju kesepakatan nuklir yang lebih luas bisa dicapai.
Peluang kesepakatan mulai terbuka setelah Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Mariano Grossi menyatakan, walaupun ada hasil akhir negosiasi, tanda-tanda positif mulai terlihat.
“Saya pikir ini menunjukkan adanya kemauan untuk mencapai kesepakatan. Dan saya kira, itu sesuatu yang mungkin,” kata Grossi.
Menurut catatan, kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sempat membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi in’tl.
Namun, kesepakatan itu runtuh setelah AS i bawah Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian itu pada 2018, sehingga memicu ketegangan relasi dengan Iran dan kini Trump kembali berusaha bernegosiasi dengan Iran dan dianggap hampir mencapai kesepakatan.
Mengupayakan perdamaian, butuh enerji ekstra, waktu dan tekad.




