
AKSI sepihak pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump bisa memperburuk konflik di Timur Tengah yang pada gilirannya bakal menyeret sejumlah negara.
Menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit dipersenjatai bom Bunker Buster atau penghancur bunker GBU- 57 Masive Ordnance Penetrator AS menyerang tiga fasilitas pengayaan Uranium Iran, Sabtu (21/6).
Ketiga situs yang selangkah lagi bisa memproduksi plutonium yakni Natanz, (140 mil selatan Teheran) Fordo 32 km timur laut Qom) dan Isahan (433 km selatan Teheran) sebelumnya (13/6) mengalami kerusakan berarti akibat serangan udara Israel.
Agaknya apa yang dilakukan konconya AS, Israel tidak tuntas karena reaktor nuklir Fordo yang terlindung 80 km di bawah permukaan tanah hanya bisa dihancurkan dengan bom GBU-57 berbobot 13,6 ton.
AS dilaporkan menggunakan enam bom Bunker Buster GBU-57 untuk menyerang area situs nuklir Fordo, walau belum ada bukti kerusakan situs nuklir terpenting Iran itu.
Yang jelas, aksi cowboy cowboian Trump itu membawa militer AS langsung terjun ke dalam kancah perang setelah berhari-hari memicu spekulasi terkait campur tangan negeri adi kuasa itu.
Serangan tersebut kemungkinan bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga tak saja bagi Iran, bahkan di seluruh kawasan Timur Tengah.
The New York Times memprediksi empat skenario perang Iran-Israel setelah AS terlibat perang.
Pertempuran total Meskipun Iran sudah merespons serangan Israel dengan rudal dan ancaman, Teheran sejauh ini masih menahan diri dari menyerang pasukan atau pangkalan AS di Timur Tengah.
Iran juga tidak menyerang negara-negara Arab yang bersekutu dengan AS, seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab (UEA).
Iran juga tidak menyebabkan harga minyak global melo njak dengan menutup atau mengganggu lalu lintas di Selat Hormus, jalur pengiriman minyak vital d selatan Iran yang berkontribusi bagi 20 persen pasokan minyak dunia.
Namun Menlu Iran Abas Araghchi menyatakan, jika AS memilij untuk menyeang Iran, negara itu berhak untuk membalas seperti yang dilakukannya terhadap Israel.
“Ketika ada perang, kedua belah pihak saling menyerang. Itu cukup dapat dimengerti. Dan hak untuk membela diri sah bagi setiap negara,” katanya dalam wawancara dengan NBC News.
Jika itu terjadi, perang atau pertempuran total di wilayah tersebut bisa saja terjadi.
Kelompok milisi sekutu Iran di Timur Tengah, termasuk Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan kelompok bersenjata di Irak, bisa melibatkan diri.
Meskipun banyak di antara kelompok telah melemah secara serius dalam dua tahun terakhir, sekutu-sekutu Iran itu masih bisa begabung dalam perang.
Perubahan rezim Jika pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berhasil dibunuh, lembaga keagamaan-militer yang telah memegang kekuasaan di Iran selama hampir lima dekade mungkin tidak akan runtuh.
Korps Garda Revolusi Iran dapat mengambil aliah kendali negara, mungkin membentuk pemerintah yang lebih ramah pada Barat, atau lebih mungkin menggantikan Khmenei dengan figur lebih ekstrim yang akan besiap untuk perang jangka panjang.
Jika militer tidak segera mengambil alih kendali, beberapa analis khawatir, Iran akan terjerumus ke dalam kekacauan atau perang saudara saat berbagai faksi berebut kekuasaan.
Di sisi lain, sejumlah ahli juga melihat ada sedikit peluang bagi oposisi liberal Iran, yang telah melemah dan ditindas oleh rezim, untuk menang.
Iran perkuat program nuklir
Semua mata tertuju pada situs Fordo, fasilitas nuklir bawah tanah yang dijaga ketat di Iran.
Namun, kemungkinan Iran memiliki situs nuklir rahasia yang bertujuan memproduksi senjata yang tidak diketahui oleh AS dan Israel, meskipun belum ada bukti publik tentang tempat-tempat tersebut.
Jika situs-situs tersebut memang ada, Iran dapat menggunakan apa yang tersisa untuk mencoba mempercepat program nuklirnya setelah serangan AS
Akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir dan pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka, Iran kemungkinan besar tidak memiliki kapasitas untuk membangun senjata nuklir dengan cepat.
Iran bernegosiasi
Sebelum Israel melancarkan serangan mendadak pada 13 Juni, Iran dan AS sedang membahas program nuklir Iran.
program nuklir Iran.
Iran sedang memproduksi bahan bakar nuklir mendekati tingkat yang diperlukan untuk senjata nuklir.
Sebagai imbalan atas pembatasan nuklirnya, Iran akan mendapatkan keringanan sanksi ekonomi dan walau kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan akhir, tanda-tanda kemungkinan kompromi telah muncul, awal Juni.
Ketika Israel menyerang Iran, negosiasi tersebut runtuh walau Iran telah memberi sinyal bahwa mereka tetap bersedia bernegosiasi, bahkan serangan terhadap Fordo tidak akan secara otomatis menghapus prospek kembalinya Iran ke meja perundingan.
Namun sknario terburuk, jika kekuatan global lainnya yakni Rusia, China dan juga Korea Utara berani adu nyali pasang badan membela Iran, tentu yang akan terjadi lain lagi. Perang Dunia III tak terelakkan!




