“Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu,” (Khalifah Kedua Umat Islam, Umar bin Khaththab)
DALAM sebuah seminar yang bertajuk “Tantangan Mendidik Anak dalam Era Digital,” beberapa waktu lalu, Pakar Parenting, Elly Risman mengungkapkan, jika orang tua ingin melakukan parenting kepada anaknya, sebaiknya orang tua harus berdamai terlebih dahulu dengan masa lalunya.
Kenapa? Karena kerap sekali orang tua menyamakan situasi dia yang dahulu masa kecil, dengan apa yang dialami anaknya sekarang. Padahal berbeda sama sekali.
Mengasuh anak sekarang, kata Elly, harus pandai menjaga bicara. Karena mengasuh anak sama dengan menyemai benih. Apa yang ditanam orang tua melalui komunikasi kepada anaknya saat ini, akan membentuk karakter anak dan melekat hingga dewasa.
“Apa yang anda sampaikan dan anda tanam kepada anak Anda saat ini, nanti akan ditularkan pula kepada cucu Anda nanti,” jelas Elly.
Diterangkan Elly, akibat salah berbicara dengan tidak sengaja kepada anak, maka akan mengasilkan prilaku pada anak, diantaranya; anak-anak akan bingung, kecewa, lelah jiwa (BETE), bertanya: mengapa aku dilahirkan?, de-motivated: malas, merasa terperangkap, dendam dan mau bunuh diri.
Menurut penelitian, kata Elly, anak usia 9-15 tahun rentan ingin bunuh diri, di antaranya karena mereka kecewa dengan kemauan orang tuanya.
“Untuk itu, wahai para orang tua bericaralah kepada anak, peluk mereka dan minta maaf kalau Anda salah berucap kepadanya,” jelasnya.
Elly juga mengungkapkan 12 gaya populer kekeliruan cara berkomunikasi orang tua kepada anaknya. Pertama, memerintah (“Mama bilang mandi sekarang! Cepetan bentar lagi jemputan datang jangan leleettt”).
Kedua, menyalahkan (“Tuh mama bilang juga apa! Jangan lari-lari kan jatuh sekarang! Salah kamu gak mau denger, kualat!“). Ketiga, meremehkan (Contohnya anak mau membantu mencuci piring, orang tuanya mengatakan, “Nga usahlah, paling juga ngak bersih, malah ngabis-ngabisin air sama sabun !”)
Keempat,membandingkan (Kenapa sih, kamu tidak bisa kayak si Lia ? Coba liat, dia juara terus gak kayak kamu, boro-boro juara!). Kelima, orang tua ingin memberi motivasi dengan memberi contoh tentang orang lain, tapi anak menanggapi bahwa dia tidak disayang oleh orang tuanya, karena selalu di banding-bandingkan.
Kelima, mencap atau melabeli (nakal, penakut, malas, bego, dll : contohnya “Kamu penakut amat sih! tidur sendiri saja masih nga berani). Keenam, mengancam (“Kalo ngak makan dipanggil pak polisi ya!”. “Ayoo kalau nga tidur, nanti di gigit nyamuk”)
Ketujuh, menasehati (“Makanya kamu tuh jadi anak harus …”). Kedelapan, membohongi (“Ah cuma sedikit lukanya, besok juga sembuh” ) “Padahal besok pagi pas mandi, masih sakit tuh,” ungkap Elly.
Kesembilan, menghibur. (Maksudnya menghibur anak yang sedang sedih dengan memberi hadiah atau reward pada saat yang kurang tepat . contohnya “udahlah nga usah dipikirin, mending nonton aja”. Tanpa mencari solusi pada masalah yang sebenarnya, maka ke depannya anak akan cenderung melarikan diri bila menjumpai masalah lagi.)
Kesepuluh, mengeritik (“Masa gini aja nga bisa sih! ini kan soal gampang please dehhh”). Kesebelas, menyindir (“Haduh tumben hari terang anak mama nyuci piring”) .
“Padahal apa hubungannya,” ungkap Elly.
Keduabelas, menganalisa (“Tuh kan mama bilang juga apa…gara-gara kamu ngak bawa buku jadinya ngak bisa belajar di sekolah terus…”).
Diterangkannya, maksudnya orang tua ingin menganalisa kemampuan anak, dari kesalahan yang diperbuat dan meminimalisir agar tidak terulang, tetapi kenyataannya kebanyakan orang tua banyak yang tidak mengenal anak-anaknya dan membuat kekeliruan atau lebay.
Jika ini yang dirasakan anak setiap hari, lanjutnya, maka anak akan tumbuh sebagai anak yang pendendam, pembenci, tidak betah di rumah dan kehilangan motivasi.
Zaman Digital
Apalagi zaman ini, lanjut Elly Risman, era tekonologi digital. Kalau tidak awas, maka orang tua akan menempatkan anaknya di ambang bencana. “Orang tua harus segera menyadari hal ini,” ungkapnya.
Terkadang di rumah orang tua memasang internet, dan dipancarkan menggunakan wifi, terus anak umur 3 tahun sudah diberi tablet. Mereka kemudian berselancar di dunia maya yang tiada batas dan tak bertepi. Sementara bapak dan ibunya sibuk dengan aktivitas lainnya. Tentunya hal ini dapat membuat anak kebablasan, anak akan tumbuh liar.
Untuk itu, Elly mengajak orang tua juga harus menguasai cara berinternet sehingga tidak ditipu oleh anaknya. Orang tua harus selalu mencek riwayat berselancar anaknya di dunia maya termasuk mengetahui dengan siapa anaknya berteman di media sosial.
Selain itu, orang tua harus ikuti perkembangan anak dan ajak anak dengan bijak dalam berinternet. “Anak harus diarahkan dan dikontrol,” terang Elly.
Elly juga mengingatkan, anak-anak sekarang juga senang dengan komik. Untuk itu, orang tua jangan membeli komik sembarangan, lihatlah isinya. Orang tua juga harus rajin memeriksa tas anak, rak buku, kolong bawah tempat tidurnya dan pakaian di lemari. Jangan-jangan anaknya menyimpan benda dan buku yang tidak pantas ia miliki.
Sebaiknya anak-anak diajarkan berbagai jenis bacaan, tidak komik saja. Anak diajarkan tentang science, fiksi, petualangan, dongeng, kisah rasul dan sahabat. Tentunya dengan mencontohkan kepada anak, orangtua membaca dan anak akan meniru.
Hal lain yang perlu dikontrol menurut Elly, adalah mengatur jam tv hidup, memilih program yang boleh ditonton, kemudian membahas sebelum dan sesudah menonton apa saja yang seharusnya dan tidak seharusnya. Kalau di TV banyak program yang membahayakan anak dan tidak mendidik, segera carikan program pengganti.
Kalau anak sudah remaja, ajakan teman-temannya untuk menonton ke bioskop sudah mulai menggodanya. Untuk itu, kepada anak dijelaskan perlu atau tidaknya ke bioskop. Jelaskan hukum ikhtilat (bercampur baur laki dan perempuan) kepada anak. Sampaikan kalau gelap-gelapan bersama orang yang tidak muhrim akan mengundang maksiat. Bicarakan dengan anak dampak melihat adegan syur dalam keadaan gelap ketika berdua bersama teman yang lawan jenis.
Waspadai Pornografi
Salah satu bahaya lain yang juga merusak anak adalah pronografi, saat ini sangat mudah disaksikan dari manapun.
Menurut penelitian, kata Elly, anak kelas 4,5,6 sekolah dasar sudah pernah liat pornografi walau tidak sengaja. Kebanyakan media pornografi yang dilihat anak dan remaja adalah dari buku, film bioskop, situs, games, iklan, komik, video klip, sinetron tv, media cetak, hp dan buku cerita.
Sementara tempat anak-anak melihat pornografi menurut penelitian itu, malah yang tertinggdi terjadi di rumah sendiri sebanyak 52%, di rumah teman 10% sisanya di bioskop dan tempat lainnya.
Ketika ditanya apa perasaan mereka ketika melihat pornografi? Ada yang menjawab; jijik 48%, Kaget 27%, Biasa aja 12%, Terangsang / senang 2%, Tidak pernah 4%, Takut 3% dan Lain2 1%
Menurut Elly, industri pornografi memang sengaja mentargetkan konsumen pornografi menyasar anak-anak. Mereka telah berpikir melampaui orang tua. Dengan demikian, anak-anak akan menjadikan pornografi sebagai way of life.
“Anak-anak kita akan menjadi pasar atau konsume pornografi seumur hidup. Ujung-ujungnya adalah kerusakan otak mereka secara permanen, nauzubillah,” ungkap Elly, seperti dikutip SwaraCinta dari Blog Ummu Adam.
Elly memberikan tips bagaimana cara menghadapi anak yang sudah tertular dengan pornografi; hadapilah anak dengan tenang, jangan panik, terima mereka meskipun bersalah, maafkan mereka, ajak merea musyawarah dan perbaiki pola pengasuhan kepada mereka.
Nasihat Elly, ada delapan hal yang dapat membantu anak yang sudah kecanduan pronografi; Pertama, mendidik anak jangan fokus kepada aspek akademis semata.
Kedua, orang tua juga harus aktif menggunakan media untuk mengontrol anak-anak. Ketiga, selalu berkomunikasi dengan anak dan meningkatkan kedisiplinan mereka.
Keempat, memperkuat rasa takut anak-anak kepada Allah dan ajak mereka membicarakan tentang pentingnya memelihara kesucian sampai menikah. Kelima, meningkatkan kemampuan anak dalam berpikir kritis.
Keenam, menjaga harga diri. Ketujuh mendidik anak mandiri dan Kedelapan, medoakan mereka agar selamat dunia dan akhirat. – Maifil Eka Putra





