Bom penghancur bunker AS diciptakan perempuan Vietnam

Nguyet Anh Duong (65) , perempuan migran Vietnam yang ikut merancang bom penghancur bunker yang digunakan AS menyerang tiga situs nuklir Iran (22/6). (ilustrasi: QuoqphongVietnam.com)

BOM bunker buster (penghancur bunker)  GBU-57 yang digunakan Amerika Serikat mengebom tiga situs nuklir Iran, Minggu 22 Juni lalu ternyata diciptakan leh perempuan migran asal Vietnam.

BBC  dan New York Times melaporkan, Nguyen Anh Duong (65) yang viral namanya setelah pesawat pesawat tempur siluman B-2 Spirit  AU AS menjatuhkan 14 bom GBU-57 MOP (Massive Ordnance Penetrator) dan rudal rudal jelajah Tomahawk ke fasilitas pabrik uranium Iran Fordow, Natanz dan Isahan, Iran.

Bom bom berbobot masing masing 13,6 ton itu, menurut versi AS berhasil menimbulkan kerusakan parah pada struktur ketiga situs nuklir yang berada sekitar 80 sampai 90 meter dan terlindung di wilayah pegunungan sehingga tidak bisa difungsikan dalam waktu dekat.

Sebaliknya, Iran mengeklaim, ketiga fasilitas nuklirnya hanya megalami kerusakan ringan, para pekerjanya sudah dievakuasi sebeumnya dan uranium yang dihasilkan sudah dipindahkan.

Duong yang dijuluki “The Bomb Lady”, saat diwawancarai di rumahnya di Marryland mengaku pernah memimpin pengembangan  bom yang digunakan AS menyerang Iran sehingga ia  langsung merasa familiar saat  membaca rincian spesifikasi teknis bom di media .

Duong adalah ilmuwan yang menciptakan bom thermobaric berpemandu laser BLU-118 yang dirancang khusus  untuk menghancurkan ruang tertutup seperti terowongan Al Qaeda di Afghanistan.

Bom tersebut menghasilkan ledakan bersuhu tinggi dan berdurasi panjang, sehingga pasukan tidak perlu menyisir bukit dan gua satu per satu untuk memastikan kerusakan dan apakah pasukan lawan ada yang masih bertahan hidup.

Duong yag dilahirkan di Saigon, Vietnam Selatan, 1960, tumbuh di tengah Perang Vietnam dan ayahnya pejabat tinggi pertanian Vietnam Selatan, sementara kakaknya pilot helikopter militer Vietnam Selatan.

Ia mengaku menangis di gerbang rumah dan berhayal memiliki tongkat ajaib, agar kakaknya yang pilot helikopter militer bisa pulang dengan selamat beberapa hari sebelum Saigon jatuh ke tangan komunis pada 30 April 1975,

Duong dan keluarganya berhasil menaiki kapal AL Vietnam Selatan menuju Filipina, sebelum akhirnya mendapat suaka politik di AS dan menetap di Washington DC, disponsori oleh  gereja setempat.

Meski awalnya tidak bisa berbahasa Inggris, Duong membuktikan diri sebagai pelajar unggul, lulus dengan predikat kehormatan dari University of Maryland jurusan teknik kimia, lalu meraih gelar master di bidang administrasi publik.

Pada 1983, Duong bekerja sebagai Insinyur Kimia di laboratorium AL AS, Indian Head Naval Surface Weapons Center, lalu pada 1991-1999 mengelola semua program penelitian dasar, eksplorasi, dan pengembangan lanjutan AL mengenai  bahan peledak berkekuatan tinggi.

Karier Duong

Karier Duong moncer sehingga sejak 2009 menjabat Direktur Divisi Perbatasan dan Keamanan Maritim Direktorat Sains dan Teknologi Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.

Kolonel Thomas Ward dari Badan Pengurangan Ancaman Pertahanan meminta tim Duong yang berjumlah 100 orang meringkas riset lima tahun hanya dalam 67 hari. Mereka menciptakan peledak thermobaric yang bisa dituangkan seperti adonan ke dalam casing bom AU.

Produk akhirnya bernama bom BLU-118/yang dirancang untuk membakar terowongan Al Qaeda di Afghanistan, agar prajurit AS  tidak perlu masuk untuk mengecek satu per satu.

Namun saat ditanya apakah pengembangan senjata akan menciptakan perang atau perdamaian, Duong menjawab:

“Perdamaian atau perang adalah keputusan manusia. Senjata hanyalah alat, sama seperti ribuan alat lainnya. Jika kita berkata negara cinta damai tidak butuh senjata, sama saja jika kita  menganggap tidak perlu tentara,” tuturnya.

Meski ia tidak terlibat langsung dalam serangan, Duong menyebut pengalamannya sebagai bagian dari komunitas kecil pembuat bahan peledak.

“Saya melihat bahan peledaknya, dan langsung teringat akan wajah-wajah sahabat lama,” ujarnya. “Kami di komunitas pengembang bahan peledak ini kecil. Kami saling kenal dan banyak bekerja sama. Ini bukan hanya karya saya—semua adalah hasil kerja tim,” tambah Duong.

Meski masa kecilnya dihantui perang, ia tidak melihat kontradiksi dalam pekerjaannya sebagai pengembang senjata. “Tugas utama kami adalah memastikan tentara kita pulang hidup-hidup,” tegasnya.

Di balik sosok perang dan senjata yang menampilkan sisi gelap dan menakutkan, sering terselip sisi sisi kemanusiaan. (BBC/New York Times/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here