
ANGKA pengangguran di Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 4,76 persen dari angkatan kerja atau 7,28 juta orang, mulai dari jenjang pendidikan SD hingga sarjana.
Data dari Kemenaker merinci, jumlah lulusan SD dan SMP yang menganggur 2.422.846, lulusan SMA 2.038.893, lulusan SMK 1.628.517, lulusan perguruan tinggi 1.010.652 dan jebolan diploma 177.399 orang, sedangkan profil pendidikan pengangguran di Indonesia terdiri dari lulusan SD hingga sarjana.
Lulusan SD dan SMP yang menganggur 2.422.846, lulusan SMA 2.038.893 lulusan, SMK 1.628.517, lulusan universitas 1.010.652 dan lulusan diploma 177.399.
Sementara jumlah penduduk Indonesia yang saat ini bekerja 145,77 juta orang, 38,67 persen bekerja di sektor formal dan 56,57 persen di sektor informal (termasuk setengah menganggur).
Data tersebut ditampilkan Menaker Yassierli dalam pidatonya pada acara Kajian Tengah Tahun Indef 2025 di Jakarta pada Rabu (2/7).
Menurut Yassierli, kualitas tenaga kerja Indonesia menjadi persoalan tersendiri mengingat 85 persen lulusan sekolah menengah (SMA dan SMK).
“Ini menjadi tantangan kita. Kalau persoalan pengangguran standar-lah,” tutur Yassierli.
Ia menyebutkan, salah satu solusi mengatasi pengangguran adalah melalui penciptaan lapangan kerja lewat program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Pemerintah menargetkan sebanyak 80.000 kopdes yang beroperasi pada akhir 2025. Ia bilang, di Kopdes Merah Putih nantinya akan ada pengelola dan pekerja.
Diperhitungkan, jika dalam satu kopdes ada 25 orang pengelola, serapan tenaga kerja bisa lebih dari 2 juta orang. “Kalau pengelolanya 25 orang saja, lalu dikali 80.000 (kopdes), sudah dua juta sekian (lapangan kerja tercipta).
Yassierli juga menyatakan, solusi untuk mengatasi pengangguran harus dilihat dari dua sisi, yakni ketersediaan (supply) tenaga kerja dan permintaan (demand) terhadap tenaga kerja.
Jangan dianggap enteng
Sementara Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie memperingatkan, maraknya PHK belakangan ini tidak boleh dianggap enteng.
“Kalau saya lihat, PHK suatu yang tidak boleh dianggap enteng. Kita mesti jaga, karena itu masalah kelangsungan hidup orang banyak,” kata Anindya pada Tempo.
Hal yang paling penting, sebut Anindya, pertumbuhan ekonomi harus tetap berjalan untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Di sisi lain, Kadin juga terus berupaya dengan mencari celah a.l. melakukan diplomasi tarif dagang ke sejumlah negara untuk menciptakan lapangan kerja.
Sedangkan Yassierli menyatakan, solusi untuk mengatasi pengangguran harus dilihat dari dua sisi, yakni ketersediaan (supply) tenaga kerja dan permintaan (demand) terhadap tenaga kerja.




