JAKARTA, KBKNEWS.id – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan aktifitas erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur meningkat.
Pengamat Gunung Ile Lewotolok Stanislaus Ara Kian menjelaskan, berdasarkan pengamatan visual yang telah dilakukan selama periode 1 hingga 7 Juli 2025, menunjukkan aktivitas hembusan dan erupsi gunung tersebut secara frekuensi meningkat signifikan.
Dia menegaskan, untuk saat ini tingkat aktivitas pada Level III atau Siaga, dan berdasarkan data kegempaan dalam periode 1 hingga 7 Juli 2025 tercatat terjadi 1.005 kali gempa erupsi, empat kali gempa guguran, dan 828 kali gempa hembusan.
Selain itu, juga tiga kali tremor harmonik, 10 kali tremor nonharmonik, tiga kali gempa vulkanik hybrid, tiga kali gempa vulkanik dalam, empat kali gempa tektonik lokal, dan 17 kali gempa tektonik jauh.
Menurut dia, selama periode tersebut, terjadi erupsi dengan tinggi kolom 100 hingga 1.200 meter dari puncak. Kolom erupsi berwarna putih, kelabu hingga hitam. Erupsi disertai suara gemuruh dan dentuman lemah hingga kuat. Terjadi pula guguran, namun secara visual, jarak dan arah luncuran tidak teramati.
Stanislaus juga menjelaskan pada 4 Juli 2025 mulai teramati peningkatan aktivitas aliran lava ke sektor selatan dan tenggara serta sektor barat. Kemudian pada tanggal 5 Juni 2025 pukul 18.00 WITA, perkiraan jarak aliran sektor selatan lebih kurang 700 meter dari bibir kawah dan sektor tenggara 1.000 meter dari bibir kawah.
Erupsi mulai teramati sejak tanggal 14 Januari 2025 hingga saat ini. Teramati lontaran material pijar ke segala arah dengan jarak lontaran terjauh mencapai sekitar 1.500 meter ke arah utara dan ke arah timur hingga timur laut.
Meskipun secara jumlah gempa erupsi menurun, kata dia, aktivitas erupsi yang ditandai dengan tinggi kolom erupsi meningkat dan jarak lontaran semakin jauh, yang dapat menyebabkan energi mengalami peningkatan juga.





