
HASIL otopsi ulang yang dilakukan tim dokter Brazil menunjukkan, perempuan pendaki gunung Juliana Marins masih hidup 32 jam setelah ia jatuh dari lereng Gunung Rinjani, berbeda dengan hasil otopsi tim dokter Indonesia sebelumnya yang menyebutkan, korban sudah meninggal bberapa saat setelah terjatuh.
Keluarga Juliana Marins bersama sejumlah ahli forensik memberikan keterangan pers terkait hasil tersebut pada Jumat (11/7) sore waktu setempat.
Menurut keterangan Mariana Marins, saudari Juliana, korban baru meninggal setelah terjatuh untuk kali kedua di jalur pendakian.
Ahli forensik Kepolisian Sipil Brasil, Reginaldo Franklin, menduga Juliana sempat terpeleset bagian belakang tubuhnya, lalu mengalami benturan fatal di kepala saat jatuh terakhir pada Jumat (20/6).
“Juliana awalnya jatuh sejauh 220 meter, termasuk terpeleset 61 meter di dinding batu curam,” jelas Mariana, dikutip dari G1 Globo. Ia menambahkan, dinding tersebut terdiri dari batuan dan pasir terjal, yang menghubungkan titik awal pendakian ke area jatuh.
Hasil pemeriksaan biologis juga mengungkap perkiraan waktu kematian korban. Franklin menjelaskan, munculnya larva di kulit kepala membantu memperkirakan waktu meninggalnya Juliana. “Tanggal 22 (Juli), tengah hari, ditambah 15 menit: Itulah waktu kematian Juliana Marins. Dia bertahan sekitar 32 jam setelah jatuh pertama,” ujar Franklin.
Sementara ahli forensik lainnya, Nelson Massini, yang turut memantau proses otopsi kedua, menduga korban sudah mengalami cedera paha sejak jatuh pertama. ” Kematian yang agonis, hemoragik, dan menyakitkan,” ungkap Massini.
Berdasarkan analisis tim, Juliana diduga terjatuh hingga total 220 meter pada insiden pertama, lalu terpeleset lagi sejauh 60 meter dan jatuh untuk kedua kalinya sebelum akhirnya ditemukan di kedalaman 650 meter.
“Banyak yang Enggak Tahu dan Asal Bicara” Mariana mengungkap, foto terakhir Juliana saat masih hidup diambil menggunakan drone pada 21 Juni pukul 06.59 Wita. Sekitar pukul 07.51 Wita, seorang turis asal Spanyol terakhir kalinya melihat Juliana, yang sempat berteriak meminta pertolongan.
“Tim Basarnas baru bisa turun 150 meter dari tebing, sedangkan Juliana berada di kedalaman 220 meter. Jadi, meski posisinya masih di tempat semula, mereka (Tim SAR) tidak akan bisa menjangkaunya,” ujar Mariana.
Jika benar, hasil otopsi kedua oleh tim dokter Brazil itu berarti memperkuat kecurigaan pihak keluarga dan publik di negara samba itu terhadap hasil otopsi pertama otoritas Indonesia yang menyatakan, korban langsung tewas karena tubuhnya terbentur batu batu besar yang banyak terdapat di sekitar kawasan G. Rinjani, Lombok, NTB (21/6) .
Tim SAR Indonesia baru berhasil mengevakuasi jasad Juliana, Rabu (25/6) atau empat hari setelah insiden terjadi sehingga dikecam sangat lamban oleh sejumlah netizen Brazil di medsos, dan mereka meyakini, jika tim penyelamat bergerak cepat, nyawa korban masih bisa tertolong.
Sebaliknya, tim SAR mengaku sudah bekerja keras, namun peralatan terbatas, serta berdasarkan otopsi dokter, korban sudah meninggal pada hari yang sama saat terjatuh.
Penyebab kematian
Penyebab kematian Juliana Marins berdasarkan hasil otopsi tim dokter Brasil menunjukkan Juliana meninggal karena trauma berat akibat jatuh dari ketinggian.
Penyebab langsung kematian adalah pendarahan internal akibat cedera poliviseral dan politrauma dari benturan energi tinggi.
Dokumen otopsi juga menyebutkan, Juliana sempat bertahan hidup sekitar 10–15 menit setelah benturan terakhir, tetapi dalam kondisi tak mampu bergerak.
Proses pembalseman jenazah yang sudah dilakukan sebelumnya turut menyulitkan analisis detail, seperti perkiraan waktu kematian yang lebih presisi.
Franklin menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan dengan radiologi untuk mendeteksi fraktur tulang rusuk, paha, dan panggul. Patah tulang panggul disertai pendarahan hebat, sedangkan salah satu tulang rusuk menembus pleura paru-paru, berujung pada kerusakan paru-paru.
“Dia mengalami memar di tengkorak yang menyebabkan pendarahan otak, luka di dahi, hingga patah tulang paha yang membuatnya tidak bisa bergerak sebelum meninggal,” terang Franklin.
Kesaksian bahwa Juliana maih hidup saat terpeleset pertama juga dilontarkan oleh pendaki Malaysia yang mengabadikan korban dari pengambilan video dari drone miliknya.
Menurut dia, korban masih tampak bergerak, namun pada pegambilan video kedua, korban tidak berada di posisi semula, kemungkinan pindah lokasi, lalu jatuh lagi.
Tidak diketahui sampai saat ini keberadaan pendaki Malaysia itu, yang tentu akan memperkuat kesaksian bahwa korban masih hidup 32 jam setelah kejadian pertama.
Jika analisis dari hasil otopsi di Brazil itu benar, tentu kasus kematian Juliana bisa dijadikan pembelajaran tentang kesiapan Basarnas dan otoritas terkait kegiatan wisata termasuk pendakian gunung ke depannya.
Last but not least, jika hasil otopsi pertama dokter Indonesia berbeda akibat tekanan pihak tertentu, hal ini akan ikut mencoreng wajah dan integritas Indonesia di mata internasional.
Investigasi secara transparan dan fair di dalam negeri agaknya perlu dilakukan!




