Saudaraku, waktu adalah lentera yang tak pernah padam, menyala di setiap lorong kehidupan. Ia mengintip dari celah pagi yang lembut, menyusup dalam senja yang redup, dan bersembunyi di balik malam yang gelap.
Ia bukan musuh, meski sering terasa seperti penipu. Ia mencuri masa kecil kita, menggantinya dengan dewasa yang penuh beban. Ia menghapus jejak-jejak kaki di pasir pantai, menyisakan hanya debur ombak yang tak pernah henti bertanya.
Namun, waktu juga adalah teman. Ia yang membisikkan bahwa luka akan sembuh, bahwa tangis akan reda. Ia yang mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian dari menemukan, bahwa perpisahan adalah pintu menuju pertemuan yang baru.
Waktu tak pernah terburu-buru, tapi ia juga tak pernah menunggu. Ia berjalan dengan langkah pasti, meninggalkan kita yang seringkali terpaku, menyesali apa yang telah berlalu, atau takut akan apa yang belum tiba.
Dan di dalam dekapannya, kita hidup—seperti daun yang terjatuh, seperti bintang yang redup, seperti jiwa yang terus mencari makna dalam setiap detiknya. Waktu adalah perjalanan, dan kita hanyalah pelancong yang singgah sebentar, menuliskan cerita di buku semesta.



