Jakarta terimbas kemiskinan dari daerah

Kemiskinan di DKI jakarta naik akibat meningkatnya urbanisasi dari wilayah wilayah kemiskinan di daerah (foto: Tempo)

DKI Jakarta mau tidak mau tetap menjadi destinasi pilihan bagi kaum urbanis dari daerah, sebagai asa untuk mengubah nasib, sehingga berkontribusi memicu naiknya angka kemiskinan.

BPS DKI Jakarta Nurul Hasanudin mengungkap, urbanisasi menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan angka kemiskinan di Jakarta per Maret 2025.

Menurut dia, banyak faktor penyebab naiknya angka kemiskinan di DKI Jakarta, namun urbanisasi tidak bisa dilepaskan dari dinamika kemiskinan perkotaan, meskipun bukan satu-satunya penyebab.

“Ya, memang banyak faktor. Bukan hanya urbanisasi, tapi juga faktor-faktor lain yang boleh jadi terkait dengan kenaikan garis kemiskinan,” kata Nurul dalam agenda rilis data statistik sosial-ekonomi di Kantor BPS DKI Jakarta, Jumat (25/).

Nurul mengatakan, urbanisasi berperan karena perpindahan penduduk dari daerah ke Jakarta kerap kali tidak diiringi dengan kesiapan ekonomi atau pekerjaan tetap.

Menurut dia, pendatang baru yang belum memiliki tempat tinggal layak atau akses pekerjaan formal kerap masuk ke dalam kelompok rawan miskin dan menambah beban sosial di wilayah padat penduduk,” kata dia.

Naiknya garis kemiskinan dan inflasi disebut turut memperburuk kondisi daya beli warga berpenghasilan rendah di Ibu Kota.

Ketika garis kemiskinan meningkat, penduduk yang sebelumnya berada sedikit di atas garis itu bisa tergelincir menjadi miskin dan dalam  situasi tersebut, stabilitas harga kebutuhan pokok sedianya menjadi hal yang krusial.

“Ini penting, khususnya dalam konteks komponen kebutuhan pokok yang masuk dalam keranjang angka kemiskinan kita,” lanjut Nurul.

Sebelumnya data BPS menunjukkan, tingkat kemiskinan di Jakarta pada Maret 2025 mencapai 4,28 persen atau naik 0,14 persen dibandingkan September 2024 yang sebesar 4,14 persen.

Jumlah penduduk miskin juga bertambah menjadi 464.870 orang, naik sekitar 15.800 orang dari periode sebelumnya. Garis kemiskinan Jakarta turut meningkat menjadi           Rp 852.798 per kapita per bulan, naik 6,79 persen dari September 2024.

“Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya biaya hidup minimum yang harus dipenuhi warga,” tutur Nurul.

Inflasi tinggi sejak Oktober

Salah satu penyebab naiknya garis kemiskinan adalah inflasi tinggi yang terjadi sejak Oktober 2024 hingga Maret 2025. Bahkan, inflasi DKI pada periode itu tercatat lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Sejumlah komoditas utama yang mendorong inflasi antara lain tarif air minum, sewa rumah, beras, daging sapi, aneka sayuran, serta jasa asisten rumah tangga yang semakin terasa jelang Ramadan.

Lonjakan inflasi memicu naiknya harga kebutuhan pokok, yang pada gilirannya berimbas langsung terhadap daya beli rumah tangga miskin,” tutur Nurul.

BPS DKI kini tengah mendalami wilayah-wilayah yang mengalami peningkatan angka kemiskinan tertinggi, terutama di kawasan perbatasan Ibu Kota seperti Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat.

Misalnya potret kemiskinan di Jakarta Timur yang berbatasan dengan Bekasi, atau Jakarta Selatan yang berbatasan dengan Depok, maupun Jakarta Barat yang berbatasan dengan Tangerang.

Pengentasan kesejahteraan rakyat di pedesaan adalah keniscayaan yang antara lain dilakukan dengan pengembangan 80.000 Koperasi Desa yang dicanangkan Presiden Prabowo pekan ini.

Tanpa perbaikan kesejahteraan penduduk pedesaan, imbas kemiskinannya pasti membebani DKI Jakarta.

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here