
JAKARTA – (KBKNEWS) – KEPUTUSAN mundur Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar, ke mana arah kebijakan bank sentral setelah ini?
Pergantian pucuk pimpinan bank sentral memang hampir selalu menjadi perhatian investor. Bukan semata soal siapa sosok penggantinya, melainkan bagaimana karakter pemimpin baru akan memengaruhi arah suku bunga, stabilitas rupiah, hingga koordinasi dengan pemerintah.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita seperti dilaporkan CNNI (28/7) menyebutkan, arah kebijakan BI setelah mundurnya Perry bergantung pada satu pertanyaan utama, apakah akan terjadi kebijakan yang berlanjut (policy continuity) atau justru kebijakan yang berbalik arah (policy deviation).
Namun, ia melihat ruang perubahan sebenarnya tidak terlalu besar karena BI bekerja berdasarkan kerangka kebijakan yang telah mapan.
“BI bukan institusi yang berjalan berdasarkan preferensi individu, tetapi berbasis kerangka kebijakan yang sudah cukup mapan, seperti inflation targeting framework, stabilisasi nilai tukar, dan penguatan stabilitas sistem keuangan,” ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com.
Karena itu, dalam skenario dasar (baseline), ia memprediksi arah kebijakan moneter tidak akan berubah drastis.
“Yang mungkin berubah adalah style, timing, dan degree of aggressiveness dalam merespons tekanan,” imbuhnya.
Amati karakter Gubernur BI baru
Meski arah kebijakan diperkirakan tetap sama, Ronny mengatakan pasar tetap akan mencermati karakter gubernur baru.
Sebab, pasar tidak hanya melihat kerangka formal kebijakan, tetapi juga mencoba membaca kecenderungan (policy bias) pemimpin bank sentral.
Jika gubernur baru lebih akomodatif terhadap kebutuhan pembiayaan pemerintah, peluang pelonggaran likuiditas dinilai akan lebih besar.
“Kalau gubernur baru cenderung lebih akomodatif terhadap kebutuhan pembiayaan fiskal, maka akan ada peluang pergeseran halus ke arah likuiditas yang lebih longgar, dan ini tentu berisiko terhadap stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi,” jelasnya.
Sebaliknya, jika gubernur baru memiliki karakter yang lebih konservatif (hawkish), BI diperkirakan tetap akan mengedepankan stabilitas.
Karena itu, Ronny menilai arah kebijakan BI ke depan bukan berubah secara hitam-putih, tetapi sangat ditentukan oleh tingkat kredibilitas gubernur baru.
Ronny juga melihat ada sejumlah kebijakan Perry Warjiyo yang sebaiknya tetap dipertahankan oleh penerusnya. Pertama, pendekatan bauran kebijakan (policy mix) yang mengombinasikan suku bunga, intervensi pasar valuta asing, dan instrumen makroprudensial. Pemerintah
“Ini membuat BI cukup fleksibel menghadapi guncangan global,” kata Ronny.
Kedua, pendalaman pasar keuangan yang selama ini dilakukan Perry menjadi fondasi penting yang perlu terus diperkuat, terutama melalui pengembangan instrumen operasi moneter berbasis pasar agar transmisi kebijakan moneter semakin efektif.
Ketiga, koordinasi erat dengan pemerintah dalam kerangka stabilitas makro, terutama saat masa krisis juga perlu terus dipertahankan.
“Ini terbukti membantu menjaga ekonomi tetap relatif stabil di tengah tekanan global,” tegasnya.
Tiga pekerjaan besar BI
Ronny juga memaparkan sejumlah pekerjaan besar yang menanti gubernur baru BI.
Pertama, memperkuat kredibilitas nilai tukar rupiah yang masih terlalu sensitif terhadap perubahan sentimen global maupun arus modal jangka pendek.
Kondisi tersebut menunjukkan struktur pasar valuta asing Indonesia masih perlu diperkuat.
Kedua, memperbaiki transmisi kebijakan suku bunga ke sektor riil. Selama ini, perubahan
BI Rate belum selalu diikuti perubahan bunga kredit perbankan secara proporsional, sehingga efektivitas kebijakan moneter belum optimal.
Ketiga, menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan yang semakin kompleks.
“Tekanan ke depan akan semakin kompleks, seperti kebutuhan pembiayaan fiskal besar, risiko eksternal tinggi, dan tuntutan pertumbuhan domestik tetap kuat,” ucapnya.
Ronny menyimpulkan fondasi kebijakan yang ditinggalkan Perry Warjiyo sebenarnya cukup kuat. Tantangan terbesar justru terletak pada kualitas implementasi kebijakan oleh gubernur berikutnya.
“Arah BI ke depan kemungkinan besar tetap dalam koridor yang sama, tetapi kualitas implementasinya yang akan menentukan apakah kredibilitas itu menguat atau justru tergerus. Warisan Perry memberi fondasi yang cukup kuat, tetapi fondasi saja tidak cukup, eksekusinya ke depan akan jauh lebih menentukan dalam konteks tekanan global yang makin tidak bersahabat,” pungkasnya.
Ujian Terberat Independensi BI
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai pergantian gubernur BI tidak otomatis mengubah arah kebijakan moneter lantaran keputusan strategis diambil secara kolektif melalui Dewan Gubernur.
“Keputusan tetap bersifat kolektif melalui Dewan Gubernur dan terikat mandat menjaga stabilitas rupiah, inflasi, serta sistem keuangan,” kata Rizal.
Meski demikian, ia menilai figur gubernur baru tetap akan memiliki pengaruh terhadap arah kebijakan dalam jangka menengah, terutama di tengah tekanan rupiah, pengetatan likuiditas, dan kebutuhan pembiayaan ekonomi.
Menurut Rizal, gubernur BI berikutnya juga menghadapi tantangan untuk melanjutkan sejumlah kebijakan yang telah dibangun Perry Warjiyo selama menjabat.
Salah satu yang paling penting adalah pendekatan bauran kebijakan yang mengombinasikan instrumen suku bunga, stabilisasi nilai tukar, kebijakan makroprudensial, pendalaman pasar keuangan, hingga digitalisasi sistem pembayaran.
“Kerangka ini membuat BI tidak hanya bergantung pada suku bunga, tetapi memiliki instrumen yang lebih luas untuk merespons gejolak ekonomi,” jelasnya.
Rizal juga mengingatkan gubernur baru juga menghadapi sejumlah pekerjaan rumah yang tidak ringan.
Tantangan utama adalah menjaga independensi dan kredibilitas BI di tengah berbagai tekanan, sekaligus memastikan kebijakan moneter dapat tersalurkan lebih efektif ke sektor riil.
Terlebih, biaya untuk menjaga stabilitas ekonomi juga diperkirakan akan semakin besar seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Menurut Rizal, pasar keuangan akan lebih memperhatikan apakah BI tetap mengambil keputusan berdasarkan data dan pertimbangan ekonomi, atau justru mulai dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek.
Ia mengingatkan, jika independensi BI melemah, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi. Tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat, premi risiko investasi naik, dan biaya pendanaan bagi pemerintah maupun dunia usaha menjadi lebih mahal.
Pasar akan menilai bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi apakah kebijakan tetap berbasis data dan bebas dari tekanan politik jangka pendek,” ujarnya.
Yang sedikit melegakan, pengunduran Perry tidak direspons secara berlebihan oleh pasar, yang agaknya lebih menekankan sikap “wait and see”.
Nilai tukar rupiah walau kembali tembus Rp18.000 per dollar AS pada pembukaan perdagangan, Selasa pagi (28/7), bergerak melemah 61 poin atau 0,34 persen menjadi Rp18.070 dibandingkan apenutupan sebelumnya, Rp18.009.
Sementara itu, perdagangan IHSG dibuka melemah ke level 6.175. Mengutip data Stockbit hingga pukul 09.05 WIB, IHSG masih nyaman di Zona Merah di level 6.174 atau turun 0.19 persen.
PJS Gubernur BI Destri Damayanti mengimbau agar pelaku pasar tidak panik dan memastikan kebijakan BI tetap konsisten untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan.
Pasar keuangan tidak bisa dimanipulasi dengan retorika-retorika atau omon-omon, karena kepercayaan hanya akan terbentuk jika kebijakan yang diambil, lalu hasilnya sesuai tuntutannya.(CNNI/ns)




