PENGELUARAN utama penduduk miskin di Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan sama saja, didominasi untuk membeli beras, rokok dan telur ayam negeri.
BPS melaporkan, Senin (28/7) pengeluaran untuk beras dan rokok kretek filter di kalangan perkotaan per Mare 2025 masing-masing 21,06 persen dan 10,72 persen, sementara pengeluaran di perdesaan untuk komoditas yang sama masing-masing 24,91 persen dan dan 9,99 persen.
Beras masih memberikan kontribusi terbesar terbesar pengeluaran penduduk miskin, sedangkan rokok kretek filter pada posisi terbesar kedua terhadap garis kemiskinan,” tulis data BPS.
Dari sisi komponen bukan makanan, pengeluaran terbesar baik di perkotaan maupun perdesaan adalah untuk perumahan, bensin, listrik, pendidikan, serta perlengkapan mandi.
Garis kemiskinan makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang diwakili oleh 52 jenis komoditas.
Sementara itu, garis kemiskinan bukan makanan diwakili oleh 51 jenis komoditas di perkotaan dan 47 jenis komoditas di perdesaan.
Berikut daftar komoditas yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan:
Beras teratas disusul rokok
Makanan: 73,67 persen di perkotaan, 76,07 persen di perdesaan, sementara beras berada di ranking pengeluaran teratas, disusul pengeluara untuk rokok kretek.
- Beras: 21,06 persen di perkotaan, 24,91 persen di perdesaan
Rokok kretek filter: 10,72 persen di perkotaan, 9,99 persen di perdesaan
3. Telur ayam ras: 4,50 persen di perkotaan, 3,62 persen di perdesaan
4. Daging ayam ras: 4,22 persen di perkotaan, 2,98 persen di perdesaan
5. Di perkotaan mie instan 2,47 persen, di perdesaan gula pasir 2,40 persen.
6. Kopi bubuk & kopi instan sachet: 2,29 persen di perkotaan, 2,16 persen di perdesaan
7. Di perkotaan roti 2,09 persen, di perdesaan mie instan 2,08 persen
8. Di perkotaan kue basah 1,98 persen, di perdesaan bawang merah 1,99 persen
9. Di perkotaan bawang merah 1,79 persen, di perdesaan cabai rawit 1,86 persen
10. Di perkotaan gula pasir 1,78 persen, di perdesaan kue basah 1,86 persen
Pengeluaran non-makanan
Pengeluaran bukan makanan mengambil porsi : 26,33 persen di perkotaan dan 23,93 persen di perdesaan
1. Perumahan: 9,11 persen di perkotaan, 8,99 persen di perdesaan
2. Bensin: 3,06 persen di perkotaan, 3,03 persen di perdesaan
3. Listrik: 2,58 persen di perkotaan, 1,52 persen di perdesaan
4. Pendidikan: 2,07 persen di perkotaan, 1,25 persen di perdesaan
5. Perlengkapan mandi: 1,31 persen di perkotaan, 1,15 persen di perdesaan
6. Di perkotaan untuk perawatan kulit, muka, kuku, rambut 0,79 persen; di perdesaan untuk sabun cuci 0,76 persen.
7. Di perkotaan untuk kesehatan 0,72 persen; di perdesaan untuk perawatan kulit, muka, kuku, rambut 0,73 persen.
8. Lainnya: 6,68 persen di perkotaan, 6,50 persen di perdesaan
23,8 juta penduduk miskin
Jumlah penduduk miskin di Indonesia menurut laporan BPS per Maret 2025 sebanyak 23,85 juta jiwa (8,47 persen dari total penduduk), turun 1,37 juta jiwa dibandingkan periode sama 2024.
Jumlah penduduk miskin tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sementara berdasarkan daerah tempat tinggal, jumlah penduduk miskin perkotaan pada Maret 2025 naik 0,22 juta jiwa dibandingkan September 2024, sedangkan di perdesaan turun 0,43 juta orang.
Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 6,66 persen menjadi 6,73 persen, sementara di perdesaan turun dari 11,34 persen menjadi 11,03 persen,” tulis laman resmi Statistik BPS 28/7).
Kategori penduduk miskin adalah dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan yakni Rp 609.160 per kapita per bulan, naik 2,34% dibandingkan September 2024.
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) berupa makanan dan non makanan. Sumber data utama yang dipakai adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Februari 2025.
10 provinsi dengan jumlah penduduk miskin paling banyak per Maret 2025:
1. Jawa Timur: 3.875.880 orang
2. Jawa Barat: 3.654.740 orang
3. Jawa Tengah: 3.366.690 orang
4. Sumatera Utara: 1.140.250 orang
5. Nusa Tenggara Timur: 1.088.780 orang
6. Sumatera Selatan: 919.600 orang
7. Lampung: 887.020 orang
8. Banten: 772.780 orang
9. Aceh: 704.690 orang
10. Sulawesi Selatan: 698.130 orang
10 provinsi dengan persentase jumlah penduduk miskin paling tinggi per Maret 2025:
1. Papua Pegunungan: 30,03 persen
2. Papua Tengah: 28,90 persen
3. Papua Barat: 20,66 persen
4. Papua Selatan: 19,71 persen
5. Papua: 19,16 persen
6. Nusa Tenggara Timur: 18,60 persen
7. Papua Barat Daya: 17,95 persen
8. Maluku: 15,38 persen
9. Gorontalo: 13,24 persen
10. Aceh: 12,33 persen
Pengentasan kemiskinan adalah keniscayaan jika Indonesia hendak meraih generasi emas pada 2045.





