JAKARTA, KBKNews.id – Perjalanan hidup seperti roda. Pengalaman itu dirasakan Rizka Azharini yang mengalami kepahitan usai ayahnya terkena pemutusan hak kerja (PHK).
Namun, Rizka tidak menyerah. Sejak SMA di SMAN 48 Jakarta, ia telah menjadi pejuang beasiswa. Berkat dukungan dari Sampoerna Foundation, ia bisa melanjutkan pendidikan dan mulai menata impian lebih besar.
Dari seorang kakak tingkat yang menjadi penerima Beasiswa Etos ID, Rizka mendapat inspirasi untuk berjuang lebih keras.
Dapat Dua Beasiswa
Seperti dilansir dari situs resmi Beasiswa Etos ID, Senin (28/7/2025), 2010 menjadi titik balik. Rizka berhasil meraih dua beasiswa sekaligus: Bidikmisi dari Kemendikbud RI dan Etos ID dari Dompet Dhuafa. Dukungan inilah yang membawanya menjadi sarjana pertama di keluarganya, menempuh pendidikan tinggi di jurusan Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Namun perjuangannya tak berhenti di situ. Dengan kondisi orang tua yang belum mampu menopang penuh kebutuhan hidup, Rizka mencari cara mandiri untuk bertahan. Ia menjadi guru les honorer, membuka bimbel privat untuk siswa SMP-SMA, bahkan sesekali berdagang kecil-kecilan di kampus.
Hadiah dari berbagai lomba ia sisihkan untuk membantu keluarga. Bagi Rizka, kemandirian adalah bentuk tanggung jawab, bukan pilihan.
Di Asrama Etos ID, Rizka tidak hanya menemukan tempat tinggal—ia menemukan ruang bertumbuh. Mulai dari rutinitas subuh yang penuh refleksi, diskusi pemikiran, hingga pembinaan rutin dan pelatihan keterampilan. Tempaan inilah yang membentuk Rizka menjadi pribadi yang disiplin, berdaya saing, dan visioner.
Selaraskan Akademik dan Organisasi
Menjadi mahasiswa keperawatan bukan perkara mudah. Sistem paket di jurusannya mewajibkan kelulusan tiap mata kuliah, dengan tekanan akademik yang tinggi.
Namun Rizka mampu melewatinya, menyeimbangkan prestasi akademik, aktif di organisasi sebagai Ketua BPM FIK UI, memenangkan berbagai lomba Debat Bahasa Inggris tingkat nasional, serta mendapatkan Juara III Mahasiswa Berprestasi FIK UI 2013.
Saat ia dihadapkan pada pilihan berat di tahun terakhir: menyelesaikan skripsi atau mengikuti kompetisi internasional. Ia memilih mengikuti kompetisi Hult Prize Global Case Challenge di Shanghai, sebuah kompetisi Social Enterprise dalam mengatasi tantangan global di berbagai bidang—karena percaya bahwa pengalaman global adalah investasi berharga.
Meskipun skripsinya tertunda, ia tetap lulus dengan baik di tahun 2015, serta menjadi perwakilan mahasiswa fakultas saat wisuda.
Bekecimpung di Dunia Filantropi
Rizka sempat ingin melanjutkan ke jenjang profesi keperawatan. Namun, karena tak ada dukungan dana dan beasiswa saat itu, ia memilih jalur karier. Keputusan ini mengantarkannya ke dunia yang tak disangka akan menjadi panggilannya: dunia filantropi.
Awalnya bekerja sebagai content writer di agensi digital marketing, Rizka akhirnya bergabung dengan PKPU (kini Human Initiative) sebagai Project Officer Program TB-HIV Community Care, bekerja sama dengan Aisyiyah Muhammadiyah.
Ia turun langsung ke lapangan, memberikan edukasi dan advokasi bagi penderita TB-HIV di Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya. Selama 2015–2017, dampaknya menjangkau lima kota/kabupaten—dan ribuan jiwa.
Tahun 2017 Rizka rehat sejenak dari dunia kerja untuk fokus pada peran barunya sebagai ibu. Namun panggilan untuk terus berkembang tak pernah padam.
Ia kembali bekerja di perusahaan Jepang yang bergerak di bidang HR Consultant sebagai Career & Recruitment Consultant, sebelum akhirnya kembali ke dunia yang telah merebut hatinya: filantropi. Pengalaman bekerja di perusahaan asing dengan culture yang unik membekali dirinya dalam menjalani karir profesional di bidang filantropi.
Tahun 2020, di tengah pandemi COVID-19, Rizka kembali bergabung dengan Human Initiative. Dia melanjutkan kariernya di sana sekaligus memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan.




