JAKARTA, KBKNews.id – Pemberian ASI eksklusif menjadi salah satu kunci utama pencegahan stunting di Indonesia. Angka stunting di Indonesia saat ini masih tinggi yakni sekitar 20 persen.
Hal ini disampaikan dalam forum diskusi oleh Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa.
Bendahara Dompet Dhuafa Tri Estriani, perwakilan Dompet Dhuafa, menegaskan pentingnya dukungan penuh terhadap ibu menyusui. “Dukungan bukan hanya motivasi untuk ibu, tapi juga lingkungan yang kondusif. WHO sudah menetapkan, minimal 50 persen bayi di bawah 6 bulan harus mendapatkan ASI eksklusif,” katanya di Gedung Philantrophy, Selasa (26/8/2025).

Sejak 2023 hingga 2025, LKC telah mendampingi ibu hamil dan menyusui melalui tiga program utama: Kawan Sehat, Pos Sehat KIA, dan Bidan untuk Negeri. Data menunjukkan peningkatan signifikan: capaian pemberian ASI eksklusif mencapai 70 persen pada 2023, naik menjadi 83 persen di 2024, dan tren positif masih berlanjut hingga 2025.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Lovely Daisy menegaskan bahwa edukasi masyarakat tentang ASI eksklusif masih sangat diperlukan.
“ASI eksklusif itu artinya hanya ASI saja sampai bayi usia 6 bulan, tanpa tambahan makanan atau minuman lain. Setelah itu, ASI tetap diberikan hingga usia 2 tahun dengan makanan pendamping. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep ini,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, 1.000 hari pertama kehidupan adalah masa krusial bagi tumbuh kembang anak. “Kalau dari kandungan sudah kekurangan gizi, 25 persen perkembangan otak bisa terganggu. Kalau kekurangan gizi di usia 2–5 tahun, dampaknya bukan hanya tinggi badan, tapi juga pertumbuhan otak. Karena itu, fokus kita bukan hanya menurunkan angka stunting, tapi mencegah sejak awal,” tegasnya.
Menurut data nasional, prevalensi stunting di Indonesia masih beragam. Baru satu provinsi berhasil menurunkan prevalensi di bawah 10 persen. Ada 11 provinsi dengan kategori sedang, 21 provinsi masih tinggi di kisaran 20–30 persen, dan lima provinsi dengan angka di atas 50 persen.
Lovely menekankan, dari 11 intervensi gizi, pemberian ASI eksklusif adalah salah satu yang paling vital. “ASI adalah makanan terbaik dan standar emas bagi anak. Kolostrum yang pertama keluar—warnanya agak kuning—sangat bermanfaat untuk bayi, jangan sampai dibuang. Sayangnya, masih banyak masyarakat memberi makanan tambahan selain ASI sejak dini, padahal itu tidak perlu,” tambahnya.





