Waspada! Siklon Tropis Ragasa

Siklon tropis Ragasa yang muncul di timur P. Luzon, Filipina, Minggu (21/9) bisa memic turunnya hujan di sejumlah wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan. Waspada! (foto: BMKG)

BMKG mendeteksi Siklon Tropis Ragasa di dekat wilayah  di Laut Filipina di timur Pulau Luzon dengan kecepatan angin maksimum sekitar 80 knot (150 km/jam) dan tekanan udara minimum 955 hPa.

“Kecepatan angin Siklon Tropis Ragasa  akan naik  dalam 24 jam ke depan menjadi kategori 4 dengan pergerakan ke arah barat hingga barat laut, menjauhi wilayah Indonesia,” kata Ketua Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Khusus BMKG, Miming Saepudin, Minggu (21/9).

Siklon Tropis Ragasa Siklon Tropis Ragasa adalah perkembangan dari bibit Siklon Tropis 90W. Hasil analisis BMKG pada Sabtu (21/9) menunjukkan, siklon tropis tersebut berada di Laut Filipina, timur Pulau Luzon.

Siklon Tropis Ragasa bergerak dari barat laut dengan kecepatan 8 knots atau sekitar 15 km/jam menjauhi wilayah Indonesia dan kekuatan siklon tropis ini mencapai 115 km per jam dengan tekanan 950 hPa.

Hasil Analisis BMKG memprediksi, Siklon Tropis Ragasa bakal menguat dalam 24 jam ke depan. Letaknya masih sama, di Laut Filipina, timur laut Pulau Luzon dan bergerak menjauhi wilayah Indonesia dengan kecepatan lebih tinggi, yakni 10 knots.

Siklon Tropis Ragasa juga mengalami kenaikan kekuatan menjadi 195 km per jam dengan tekanan hanya 915 hPa. Diperkirakan, siklon ini bakal naik ke kategori empat, berdampak turunnya hujan di sejumlah wilayah Indonesia  dan berdampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca ekstrem di Indonesia selama 24 jam ke depan.

Adapun kondisi cuaca ekstrem yang dimaksud berupa hujan dan gelombang tinggi.

Berikut ini wilayah yang terdampak Siklon Tropis Ragasa: 1. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat     Kalimantan Utara Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Barat

  1. Wilayah yang berpotensi mengalami gelombang tinggi (1,25-2,5 meter) Perairan Kepulauan Talaud.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani mengatakan, pada peralihan musim, potensi munculnya bibit siklon di Indonesia semakin meningkat karena aktifnya gelombang atmosfer skala besar, seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby.

Ketiganya mampu memperkuat pertumbuhan awan konvektif.

“Saat ini wilayah Indonesia sedang berada dalam musim peralihan sehingga menyebabkan banyak terbentuknya daerah pusat tekanan rendah dan juga aktifnya gelombang atmosfer menjadi pendukung pertumbuhan bibit siklon tropis,” ucap Andri.

Indian Ocean Dipole

Pengaruh berikutnya adalah kondisi Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase negatif.IOD adalah fenomena osilasi suhu air permukaan laut yang tiak teratur sehingga menyebabkan wilayah barat Samudera Hindia lebih hangat atau lebih digin dibandigkan wilayah timur Samudera Hindia.

Hingga Minggu Siang, Gempa Susulan di Sukabumi dan Bogor Mencapai 32 Kali Kondisi ini ditandai dengan suhu muka laut yang lebih hangat, khususnya di perairan barat Indonesia.Akibatnya, pasokan uap air dan energi untuk pembentukan siklon semakin banyak.

Belum lagi, kombinasi antara musim siklon di belahan utara–selatan, aktivitas gelombang atmosfer global, serta dukungan dari IOD negatif yang membuat wilayah Indonesia cenderung dikelilingi bibit siklon selama beberapa hari kedepan. Pembentukan siklon tropis juga disebabkan karena letak geografis Indonesia.

Indonesia berada di Samudra Pasifik Barat di bagian utara, yang musim siklonnya berlangsung Juni hingga November, dengan puncak aktivitas pada Agustus–Oktober.

Selain itu, Indonesia juga berada di Samudera Hindia yang musim siklonnya terjadi pada November hingga April, dengan puncaknya pada Januari–Maret.

Mitigasi dan antisipasi sehingga risiko kerugian dapat ditekan seredah mungkin.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here