
PRESIDEN Taiwan Lai Ching-te mengumumkan pembangunan sistem pertahanan udara baru bernama T-Dome untuk menghadapi ancaman militerĀ China daratan.
The Japan Times melaporkan (11/10), dalam pidato peringatan Hari Nasional Taiwan, Lai menegaskan pemerintahannya akan meningkatkan anggaran pertahanan dan mengajukan rancangan anggaran khusus militer sebelum akhir tahun.
“Peningkatan anggaran pertahanan memiliki tujuan yang jelas. Ini adalah kebutuhan mendesak untuk menghadapi ancaman musuh sekaligus mendorong pengembangan industri pertahanan dalam negeri,” ujar Lai.
T-Dome merupakan sistem pertahanan udara dengan lapisan ganda, deteksi tingkat tinggi, dan kemampuan intersepsi efektif.
Lai mengatakan, sistem tersebut dapat menciptakan jaring pengaman bagi rakyat Taiwan.
Meski tidak merinci sistem baru tersebut, Lai menegaskan proyek ini mencerminkan tekad pemerintah untuk menjaga keamanan nasional.
Seorang pejabat senior kantor kepresidenan mengatakan, rencana pendanaan T-Dome akan dimasukkan dalam anggaran militer tahun ini.
Sumber lain menyebutkan bahwa T-Dome dirancang mirip dengan sistem Iron Dome di Israel yang terkenal efektifĀ dalam menangkis serangan roket dan rudal jarak pendek.
Selama beberapa tahun terakhir, Taiwan menghadapi tekanan militer dan politik yang meningkat dari Beijing yang menganggap pulau tersebut sebagai wilayahnya sendiri.
Terus perkuat militernya
Taiwan terus memperkuat modernisasi militernya dengan rudal Patriot buatan AS dan Sky Bow produksi dalam negeri untuk menghadapi ancaman yang berkembang.
Pada pameran pertahanan di Taipei bulan lalu, Taiwan juga memperkenalkan rudal Chiang-Kong yang diklaim mampu mencegat rudal balistik menengah dan mencapai ketinggian lebih tinggi dari sistem Patriot.
Dalam pidatonya, Lai juga menyerukan agar China meninggalkan penggunaan kekerasan atau paksaan dalam mengubah status quo di Selat Taiwan.
“Melihat kembali Perang Dunia II, kita belajar bahwa perang hanya membawa penderitaan dan luka mendalam. Tragedi sejarah itu tidak boleh terulang,” ujar Lai.
Hari Nasional Taiwan sendiri diperingati setiap 10 Oktober, untuk mengenang pemberontakan tahun 1911 yang menggulingkan Dinasti Qing dan mendirikan Republik China.
Pemerintahan Republik China kemudian melarikan diri ke Taiwan pada tahun 1949 setelah kalah perang saudara dari pasukan komunis Mao Zedong. Mao lantas mendirikan Republik Rakyat China.
Rakyat Taiwan terus dibayang-bayangi serangan China daratan, tercermin dari manuver-manuver armada China di Selat sempit Taiwan dan, penerbangan pesawat-pesawat tempurnya mndekai Zona Identifikasi Pertahanan Udara Taiwan (ADIZ).
Pemimpin China daratan di berbagai forum juga menyatakan tekad mereka merebut kembali Taiwan yang dianggap bagian wilayahnya.Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā (The Japan Times/Kompas.id/ns)




