JAKARTA, KBKNEWS.id – Kasus pemecatan enam mahasiswa Universitas Udayana (Unud) menjadi sorotan publik, bukan hanya karena tindakan mereka yang mencemooh korban bunuh diri, tetapi juga karena menunjukkan rapuhnya empati di kalangan mahasiswa.
Keenam mahasiswa itu diketahui menulis komentar bernada olok-olokan terhadap mahasiswa Unud berinisial TAS yang meninggal dunia karena bunuh diri. Aksi tersebut kemudian viral dan menuai kecaman luas, termasuk dari civitas akademika sendiri.
Menanggapi hal itu, Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud mengambil langkah tegas dengan menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) kepada empat anggotanya yang terlibat. Dua mahasiswa lainnya juga dicopot dari jabatan organisasi kemahasiswaan lain.
Dalam pernyataannya di Instagram resmi, Himapol menegaskan sikap nol toleransi terhadap tindakan amoral dan tidak berempati. “Kami menegaskan bahwa oknum tersebut tidak lagi memiliki keterkaitan dengan organisasi kami,” tulis pengurus Himapol.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa kecerdasan akademik harus berjalan seiring dengan kecerdasan emosional. Dunia pendidikan, yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya kepedulian dan empati, justru tercoreng oleh perilaku yang tidak sensitif terhadap penderitaan orang lain.
Pemecatan keenam mahasiswa ini diharapkan menjadi pelajaran bagi seluruh mahasiswa untuk lebih bijak dalam bersikap, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Empati bukan sekadar ajaran moral, tetapi fondasi penting dalam membangun peradaban kampus yang manusiawi.




