JAKARTA, KBKNews.id – Saat seseorang diuji dengan penyakit, banyak yang merasa rapuh, kehilangan semangat, bahkan putus asa. Padahal, di balik setiap cobaan, Allah SWT selalu menyediakan pintu doa bagi hamba-Nya.
Berdoa adalah wujud kepasrahan sekaligus pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu menghilangkan kesulitan. Dalam ajaran Islam, doa bukan sekadar anjuran, tetapi perintah yang tegas, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Ghafir ayat 60: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.”
Salah satu teladan dalam berdoa saat sakit adalah kisah Nabi Ayyub AS. Riwayat beliau dalam Al-Quran menjadi contoh nyata tentang kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan akan pertolongan Allah, meski menghadapi penderitaan yang berat dan berkepanjangan.
Mengutip NU Online, Nabi Ayyub AS pernah menderita penyakit kulit selama bertahun-tahun. Tidak hanya kehilangan kesehatan, beliau juga kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya.
Dalam masa sulit itu, hanya istrinya dan dua orang saudaranya yang tetap setia mendampingi. Meski menghadapi ujian bertubi-tubi, beliau tetap tabah dan tak pernah mengeluh.
Doa Nabi Ayyub saat Sakit
Menurut hadis riwayat Anas bin Malik, Nabi Ayyub AS mengalami sakit selama delapan belas tahun. Selama itu, hampir semua kerabat menjauh, kecuali dua saudaranya yang setia merawat beliau.
Di tengah penderitaan tersebut, Nabi Ayyub tak pernah berhenti berdoa. Salah satu doa beliau yang masyhur tercatat dalam Surah Al Anbiya ayat 83:
اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ
Annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn.
Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkaulah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”
Doa ini mencerminkan keteguhan iman Nabi Ayyub AS, yang meskipun menderita sakit dan kehilangan banyak hal, tetap bersandar penuh pada Allah tanpa mengeluh.
Kisah beliau menjadi pelajaran berharga untuk selalu bersabar, berserah diri, dan berprasangka baik kepada Allah dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.





