
MENDAGRI Muhammad Tito Karnavian menyampaikan, inflasi Indonesia pada Oktober 2025 menyentuh 2,86 persen tahunan (y-on-y) atau naik sedikit naik dari perode sebelumnya walau dianggap masih pada level aman.
“Angka tersebut dinilai tetap aman karena berada dalam kisaran target pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen, “ kata Mendagri Tito Karnavian dalam keterangannya dalam rakor Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Selasa (4/11).
Menurut Tito, target ini menjaga keseimbangan sehingga tetap menguntungkan produsen maupun konsumen karena harga komoditas tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah.
“Artinya, range yang ingin kita target itu 1,5 persen sampai 3,5 persen, 2,86 persen masih pada posisi aman,” ujarnya.
Dalam rakor berlangsung secara hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu Tito menyebutkan bahwa komoditas penyumbang tertinggi inflasi secara yoy pada Oktober 2025 adalah perhiasan, diikuti cabai merah, beras, tarif air minum, dan ikan segar.
Sementara itu, komoditas penyumbang tertinggi inflasi secara bulanan pada September-Oktober meliputi perhiasan, cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, dan wortel.
“Saat ini, memang terjadi kenaikan harga emas tingkat internasional, dunia. Jadi, sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan sendiri karena ini menyangkut tren global,” ucap Tito.
Lebih lanjut, ia memaparkan tiga komponen pembentuk inflasi. Pertama, administered prices atau harga yang diatur pemerintah, seperti bahan bakar minyak (BBM), transportasi, dan air minum.
Kedua, volatile items yang harganya berfluktuasi, seperti bahan makanan, minuman, dan tembakau. Ketiga, core inflation atau inflasi inti, yaitu inflasi di luar harga yang diatur pemerintah dan di luar pangan.
“Emas ini masuk dalam core inflation. Di satu sisi, menunjukkan ada daya beli masyarakat, mereka bisa membeli emas. Tapi di sisi lain, kalau terlalu bergejolak terus naik, itu akan mengakibatkan inflasi naik juga,” jelas Tito.
Pada bagian lain Tito menegaskan, pemerintah terus menjaga stabilitas komoditas yang bergejolak agar tetap terkendali.
Dalam rakor tersebut, Tito menyoroti pentingnya kebijakan subsidi dalam menjaga daya beli dan inflasi, salah satunya melalui subsidi listrik yang manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat.
Ia juga ikut mengimbau berbagai pihak untuk mewaspadai potensi kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). (kompas.com/ns)




