
AMBISI China menguasai dirgantara antara lain tercermin dari pengembangan prototype pesawat tempur generasi keenam J-36 oleh Chengdu Aircraft Corp. yang penampilan perdana publiknya sudah sepuluh bulan.
Foto-foto bersumber dari The War Zone yang beredar di medsos China memperlihatkan pesawat berdesain futuristik tanpa ekor (tailless) dengan tiga mesin.
Menurut sejumlah analis, ini merupakan prototipe kedua yang menampilkan berbagai pembaruan signifikan, termasuk penggunaan angular exhaust nozzles menggantikan versi cekung pada model sebelumnya.
Disebut-sebut menyaingi jet siluman AS, bentuk knalpot baru itu mirip dengan two-dimensional thrust-vectoring exhausts yang digunakan pada jet siluman Amerika Serikat, F-22 Raptor.
“Desain tanpa ekor secara alami sangat tidak stabil. Thrust vectoring dapat membantu mengatasi hal ini dan memaksimalkan performa di seluruh fase penerbangan, termasuk pada ketinggian sangat tinggi,” tulis The War Zone.
Desain baru J-36 terbaru dikabarkan mengusung konfigurasi tiga mesin, dengan satu saluran udara di bagian atas badan pesawat (dorsal intake) dan dua di bagian bawah.
Desain saluran udara yang sebelumnya berbentuk seperti tanda sisipan (caret-like) kini diganti dengan diverterless supersonic inlet yang dinilai lebih mendukung karakteristik siluman.
Selain itu, pesawat ini juga tampak memiliki sistem roda pendarat baru yang kini tersusun berdampingan (side-by-side) alih-alih berbaris memanjang.
Perubahan ini menunjukkan J-36 masih dalam tahap uji terbang dan pengembangan intensif, kemungkinan mengikuti skema desain iteratif yang dipercepat agar mendekati bentuk siap produksi.
Sejumlah pengamat juga menilai J-36 bukan sekadar evolusi dari prototipe sebelumnya, melainkan mungkin merupakan konfigurasi alternatif yang diuji secara paralel.
Meski demikian, kemungkinan ini dinilai kecil. Menariknya, kemunculan prototipe terbaru Chengdu ini terjadi hanya sebulan setelah penampakan jet tanpa ekor lain milik Shenyang Aircraft Corporation, yang dijuluki J-50.
Foto yang muncul pada September menunjukkan J-50 telah mengalami perubahan besar, termasuk penghapusan infrared data boom, menandakan jet itu juga tengah memasuki fase uji kedua.
J-36 maupun J-50 pertama kali terlihat melakukan penerbangan uji pada Desember tahun lalu. Dengan kemajuan secepat ini, analis memperkirakan kedua pesawat bisa mencapai kesiapan operasional lebih cepat dari perkiraan.
Jika mengikuti jejak pengembangan jet siluman J-20 yang hanya memerlukan waktu enam tahun satu bulan dari penerbangan ujicoba pertama hingga masuk dinas militer, jet generasi keenam China bisa mulai beroperasi paling cepat pada Januari 2031.
Sementara itu, Amerika Serikat juga terus memacu proyek jet tempur generasi keenamnya, F-47, yang dikembangkan oleh Boeing. Program ini diumumkan pada Maret lalu, dan produksi dilaporkan telah dimulai sejak September.
KSAU AS, Jenderal David Allvin, mengonfirmasi bahwa penerbangan perdana F-47 ditargetkan pada 2028. “Kami harus bergerak cepat,” ujarnya saat pengumuman resmi.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengungkapkan, pesawat eksperimental F-47 X-plane telah diuji secara rahasia selama lima tahun terakhir, dengan penerbangan pertama dilaporkan pada 2019.
Menurut majalah Military Watch, AS memperkirakan F-47 baru akan memasuki layanan aktif sekitar pertengahan 2030-an. Artinya, jika China mempertahankan kecepatan pengembangan saat ini, Beijing bisa lebih dahulu mengoperasikan jet generasi keenamnya.(Bangkok Post/TWZ Beijing/Zona Militer, Kompas.com/ns)




