AI, Ayah Tiri Alvaro Bunuh Diri

Tega-teganya, Alvaro Kiano Nugroho (6) meregang nyawa diduga di tangan ayah tirinya AI yang lalu bunuh diri setelah tertangkap. (foto: dok.ist)

AYAH tiri Alvaro Kiano Nugroho (6), bocah yang ditemukan meninggal dunia usai raib selama delapan bulan, dilaporkan bunuh diri di Rutan Polres Metro Jakarta Selatan, Minggu (23/11) setelah berhasil diamankan, lalu ditetapkan sebagai tersangka pelaku.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh kakek Alvaro, Tugimin (71) yang menyebutkan, pelaku berinisial AI bunuh diri setelah ditangkap dan ditahan di Polres Metro Jakarta Selatan.

“Pelakunya sendiri ternyata ayah tirinya yang bunuh diri, meninggal, di Mapolres Jakarta Selatan,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (23/11) malam.

Sementara Kapolsek Pesanggrahan AKP Seala Syah Alam tidak membantah ataupun membenarkan pernyataan dari pihak keluarga tersebut. Ia hanya mengatakan informasi terkait kasus Alvaro akan disampaikan oleh Polres Metro Jakarta Selatan.

“Nanti polres yang bakal info lengkap dan detailnya,” ujarnya saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Senin (24/11).

Sementara itu Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly enggan berkomentar terlebih dahulu

terkait kasus tersebut. Ia beralasan sedang mengikuti kegiatan Apel Kasatwil di Cikeas hingga Rabu (26/11).

Ditetapkan tersangka

Sebelumnya Polisi menangkap ayah tiri Alvaro yang hilang selama beberapa bulan hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Nicolas menyebut,  ayah tiri korban itu juga telah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan. Meski begitu, ia belum mengungkap lebih jauh ihwal penyebab kematian Alvaro. Termasuk kronologi penemuan jasad korban yang tersisa kerangka.

Alvaro dinyatakan hilang sejak 6 Maret lalu. Peristiwa bermula saat Alvaro izin untuk melaksanakan shalat Maghrib di masjid dekat rumahnya di kawasan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Namun, selepas shalat Maghrib ternyata Alvaro tak kunjung pulang. Sehingga, keluarga mencari keberadaannya dan temannya mengaku tak bersamanya saat shalat sehingga keluarganya melapor ke Kepolisian.

Ciri-ciri terakhir Alvaro yakni memakai kaos hitam, celana panjang hitam, dan sandal hitam. Kemudian fisiknya, bertubuh kurus, kulit gelap, rambut cepak, dan terdapat lesung pipit.

Diculik pria mengaku ayahnya
Kakek Alvaro, Tugimin (71), menduga cucunya diculik oleh seorang pria yang mengaku sebagai ayahnya. Informasi ini diperoleh Tugimin dari marbut Masjid Al-Muflihun, lokasi Alvaro terakhir terlihat.

Jasad bocah Alvaro Kiano Nugroho (6) yang sempat hilang selama 9 bulan ditemukan pihak kepolisian di Kali Cirewed, Tenjo, Bogor, Jawa Barat.

Tugimin mengatakan informasi itu diterima pihak keluarga dari kepolisian saat memberi tahu update pencarian Alvaro.

“Untuk penemuannya tadi, menurut Ibu Kapolsek, itu ada di Kali Cirewed, Tenjo, daerah Bogor,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (24/11).

Tugimin juga mengaku belum sempat melihat langsung kondisi kerangka tersebut. Ia merasa sangat terpukul dengan kabar penemuan jasad Alvaro.

“Sangat-sangat terpukul saya. Sangat terpukul. Syok sekali,” tuturnya seraya menambahkan, sebelumnya, tersangka, menurut keterangan keluarga,  sempat ikut membantu mencari Alvaro ke Polsek dan ke dukun.

Sangat terpukul

Tugimin juga mengaku merasa “shock” setelah mengetahui bahwa pelaku penculikan dari cucunya justru merupakan sang ayah tiri.

Pasalnya, kata dia, pelaku masih sering datang berkunjung setiap minggu. Selain itu, Tugimin menyebut pelaku juga sempat mendampingi dirinya untuk mencari Alvaro dan membuat laporan ke kantor polisi. Belum diketahui motif pelaku sampai tega menghabisi nyawa korban.

“Alvaro ilang saya telepon, (pelaku) datang ke mari. Sampai setengah 10 datang sampai sini, dan sempat mencari juga,” tuturnya.

Aksi kejahatan di negeri ini makin brutal, dan di luar nalar bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat korban sendiri.

Untuk itu, aparat penegak hukum hendaknya lebih serius,  jeli dan sigap menyiapkan langkah secara sistematis, terpola   untuk menangani aksi-aksi kjahatan dan juga mengantisipasinya agar korban tidak berjatuhan.

Orang tua dan keluarga, lingkungan ketetanggaan, RT dan RW, babinsa dan babhinkamtibmas  mestinya juga dibekali panduan untuk mengantisipasi aksi-aksi kejahatan terutama yang korbanya anak-anak dan  dilakukan oleh orang orang terdekat.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here