Harga Telur Anjlok, Gegara MBG Libur?

Peternak ayam petelur di seluruh Indonesia menjerit karena anjloknya harga telur sampai jauh di bawah biaya produksinya. (foto: Artik SAM)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 30/6 – MENTERI Perdagangan Budi Santoso mengakui, harga daging ayam dan telur ayam anjlok, salah satu faktor penyebabnya karena masa libur sekolah di mana program MBG juga ikut dihentikan sementara.

Masa libur, ucap menteri seperti dilansir Kompas.com (30/6) membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak menyalurkan program MBG untuk siswa sekolah.

“Memang salah satu faktornya, layanan MBG tidak diberikan kepada siswa di saat libur sekolah di semester genap saat ini ,” kata Budi SAntoso saat ditemui di Jakarta, Selasa (30/6).

Mendag mencontohkan, karena SPPG sedang jeda menyalurkan MBG untuk siswa sekolah, serapan bahan pangan menjadi berkurang. Akibatnya, sejumlah komoditas kelebihan stok sehingga harga jatuh di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

Saat ia berkunjung ke Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah misalnya, mendapati telur dipasaran dijual Rp 26.000 per kg, padahal, HET telur Rp 30.000.

Sedangkan daging ayam dijual Rp 36.000 per kg, padahal HET di angka Rp 40.000 per kilogram.

“Memang telur sama daging ini lagi surplus ya, jadi dia oversupply,” ujar Busan.
Untuk mengatasi stok berlebih, Kemendag menyurati hotel, restoran, dan kafe (Horeka) untuk menyerap produk telur dan daging ayam telur peternak.

Tidak hanya itu, Kemendag juga menjajaki ekspor telur ke Singapura. “Tapi memang belum dapat buyer tapi sudah kita jajaki supaya bisa diserap ke negara lain. Jadi ada kesempatan ekspor,” tutur menteri.

Sebagai informasi, pemerintah menghentikan penyaluran MBG bagi siswa di masa libur sekolah semester genap. Akibatnya, permintaan terhadap sejumlah komoditas pangan turun mengakibatkan harga anjlok.

Asosiasi peternak ayam petelur hingga ayam pedaging sudah mengeluh kepada pemerintah karena mereka menanggung kerugian akibat tingginya biaya produksi dan rendahnya harga jual.
Anjloknya harga telur sampai sekitar Rp7.000 per kg di bawah biaya produksi, membuat ratusan peternak ayam petelur yang tergabung dalam Paguyuban Treak Rakyat Indonesia (Paterain), melakukan aksi prote dengan membagikannya secara gratis di depan gdung DPRD Jatim (29/6).
Isbandi, salah seorang peternak asal Bojonegoro mengeluhkan harga telur di tingkat produsen yang anjlok sampai Rp16.000 per kg dari harga normalnya antara Rp22.000 hingga Rp24.000.
Menurut dia, anjloknya harga telur jauh di bawah Harga Acuan Pembelian Telur di tingkat peternak yakni Rp26.500 per kg mencekik perekonomian para peternak ayam petelur dalam tiga bulan terakhir ini.

Harga telur murah yang terjangkau daya belinya oleh warga ekonomi kelas menengah sampai ke bawah tentu disambut gembira oleh meerka, namun jika peternak terus merugi, lalu usahanya mati, semua bakal rugi. (kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here