BEKASI – Sejak 1 Agustus 2016, semburan lumpur muncul di rumah warga di Kampung Kebon Kelapa, Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Menjawab kekhawatiran warga, Manager PR & CSR PT Pertamina Gas (Pertagas), Hatim Ilwan menjelaskan semburan lumpur berasal dari material bentonit yang digunakan untuk menunjang pengerjaan proyek.
Semburan lumpur sempat membuat warga panik karena mengira lumpur tersebut akan menyebabkan kejadian seperti lumpur Lapindo di Sidoarjo. Republika melansir, PT Pertamina Gas (Pertagas) mengakui pihaknya memang sedang melaksanakan proyek pemasangan pipa gas open acces ruas Muara Karang-Muara Tawar di lokasi tersebut.
“Wilayah tersebut merupakan bagian dari jalur pipa gas berdiameter 24 inchi sepanjang 31 kilometer yang membentang dari Muara Karang di DKI Jakarta hingga Muara Tawar di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat guna mengalirkan gas bagi kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik milik PLN di Muara Tawar,” kata Hatim Ilwan, Rabu (10/8/2016).
Khusus di lokasi tersebut, terdapat penanaman pipa gas sepanjang hampir 1 kilometer dengan menggunakan teknologi pengeboran horizontal secara langsung atau Horizontal Directional Drilling (HDD). Pipa gas ditanam dengan kedalaman hingga mencapai 20 meter di bawah permukaan tanah.
Pertamnina sengaja memilih teknologi ini karena jalur pipa berada di pinggir jalan raya yang lalu lintasnya sangat padat dan tidak terlalu lebar sehingga sulit ditempatkan alat berat. Teknologi open cut (digali secara langsung) dinilai tidak mungkin dilakukan karena berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas.
Atas kepanikan warga, Hatim membenarkan, dalam proses kontruksi tersebut terdapat dampak pengeboran berupa munculnya cairan lumpur di beberapa rumah warga.
“Lumpur tersebut sejatinya merupakan bentonit yang digunakan untuk memperlancar proses pengeboran dengan metode HDD sekaligus sebagai media pembawa tanah hasil pengeboran saat keluar ke permukaan,” ujarnya.
Namun ia berusaha meyakinkan ‎cairan bentonit yang keluar tidak membahayakan dan hanya digunakan dalam proses kontruksi saja. Menurut dia, sama sekali belum ada gas yang dialirkan di sepanjang pipa tersebut sehingga lumpur yang keluar bukan karena semburan gas.
Lumpur bentonit muncul sampai ke permukaan tanah karena kondisi tanah (subsurface) yang berbeda-beda. Kondisi tanah yang lemah strukturnya menyebabkan bentonit keluar melalui rongga-rongga yang kosong hingga permukaan. Sejarahnya, menurut informasi yang dia dapat, wilayah tersebut dahulunya merupakan rawa dan sawah tadah hujan.
Menurutnya proses pekerjaan HDD di lokasi tersebut sudah selesai seiring dengan selesainya pekerjaan pullback yang bertujuan menarik pipa sepanjang hampir satu kilometer tersebut ke dalam tanah dari exit point ke entry point, Senin (8/8) kemarin.
Untuk mengurangi kekhawatiran warga dan mencegah beberapa kemungkinan buruk, lumpur yang muncul di rumah warga sudah kering dan disedot dengan truk tangki. Proses negosiasi ganti rugi juga tengah dilakukan diantara keduanya.





