JAKARTA, KBK – Maraknya isu pengungsi asal Timur Tengah dan Asia Selatan membuat Indonesia cukup kerepotan menangani masalah Internasional tersebut.
Menurut Sabeth Abilawa General Manager Corporate Secretary & Communication Dompet Dhuafa, Indonesia tak bisa berbuat lebih menangani pengungsi akibat tidak merativikasi konvensi Jenewa perihal masalah pengungsi.
“Indonesia atau daerah yang di datangi pengungsi tidak memiliki APBD untuk menangani pengungsi, sehingga mereka kerap hidup terkatung-katung karena memang tak ada dana khusus untuk tangani pengungsi,” kata Sabeth dalam paparannya di acara Dialog Publik Kemanusiaan yang di gelar Dompet Dhuafa, kamis (11/08/16) di Jakarta.
Selain itu masalah pokok lainnya yang masih menjadi kendala utama RI mengatasi pengungsi yakni persepsi publik. Adhi mengatakan, kebanyakan publik Indonesia menilai pemerintah belum seharusnya memberikan bantuan kepada pengungsi karena masih banyak rakyatnya yang hidup miskin.
Terakhir hal yang menjadi kendala adalah perihal advokasi.
“Untuk advokasi utamanya hal pendidikan, Dompet Dhuafa telah bekerjasama dengan Child Word School (CWS) supaya anak-anak pengungsi bisa mendapatkan pendidikan sekolah formal. Mereka kehilangan akses pendidikan selama mengungsi, kami ingin mengisi kekosongan waktu itu dengan pendidikan bersama CWS,” terang Sabeth.





