
SITUASI makin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan, gugus tugas AL-nya dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln (no lambung SVN-72) dikawal sejumlah kapal perusak dan kapal serag amfibi sedang bergerak menuju perairan Teluk.
Walau Trump kemudian melunakkan pernyataannya, menyebut pengiriman kapal perang dalam jumlah besar ke wilayah Teluk hanya untuk berjaga-jaga, orang pasti mengaitkannya dengan kemelut politik yang dihadapi Iran saat ini.
Sebelumnya Trump mengancam akan cawe-cawe jika aparat bersenjata pemerintah Iran tidak menghentikan pembantaian terhadap pendemo dalam aksi-aksi jalanan yang merebak di seluruh Iran sejak 28 Des. tahun lalu.
Rezim Iran di bawah Pemimpin Tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei baru mengakui dalam pernyataannya Rabu (21/1) lalu , jumlah korban 3.117 orang termasuk enam ratusan aparat keamanan.
Namun mereka mengeklaim, warga sipil dan personil keamanan tewas akibat ulah anasir perusuh didalangi pihak asing terutama AS, sebaliknya Kelompk HAM HRANA dan Amnesty International menuduh, korban berhatuhan akibat penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan.
Sementara itu, Dinukil dari CNA, pejabat AS yang enggan disebut identitasnya menyatakan bahwa armada yang dikirim ke Teluk itu termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perusak berpeluru kendali.
Armada ini disebut akan tiba di teluk dalam beberapa hari ke depan dan saat ini dilaporkan telah bermanuver dari Laut Cina Selatan menuju Timur Tengah.
Hanya untuk berjaga-jaga?
Selain berjaga-jaga di Teluk, pejabat AS juga mengatakan bahwa armada itu telah diperintahkan untuk mengamankan sistem pertahanan udaranya di Timur Tengah.
Pengerahan armada telah dikonfirmasi oleh Donald Trump sendiri, Kamis (22/1). Dalam keterangannya sebelum kembali ke AS dari pertemuan di Davos, Swiss, Trump menyebut pihaknya tengah “mengawasi Iran”.
“Kami mungkin tak perlu menggunakannya … kami mengirimkan sejumlah kapal untuk berjaga-jaga, dan melihat apa yang terjadi di sana (Iran-red,” kata Trump kepada pers di Air Force One, dikutip dari Aljazeera.
Trump mengaku, armada yang dikirim ke Teluk adalah tindakan berjaga-jaga. “Saya ebih suka jika tak terjadi apa-apa” di Teluk,” tuturnya.
Sebelumnya, ketegangan di kawasan Teluk sempat tampak mereda setelah Trump menarik ancamannya ke Iran.
Trump menyebut ancaman invasi militer ke Iran urung dilakukan karena pemerintahan Iran batal mengeksekusipengunjuk rasa yang ditangkap.
Namun, pada Rabu (21/1), Trump berbicara kepada CNBC bahwa ancaman tetap berlaku jika Teheran mengaktifkan kembali program nuklirnya.
“Jika mereka melakukannya, itu [serangan militer] akan dilancarkan lagi,” kata Trump, merujuk pada serangan AS ke fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.
Serangan ke fasilitas nuklir Iran pada terjadi pada Juni 2025 lalu di tengah perang 12 hari Iran vs Israel. Saat itu adalah terakhir kali AS mengerahkan armada perangnya di Teluk. Kini, pengerahan tersebut terulang.
Iran Siap Membalas
Di sisi lain, Iran tetap bersikeras akan membalas AS jika serangan militer betulan dilakukan. Pada Selasa (20/1), Menlu Iran menulis opini di Wall Street Journal dan menyatakan bakal “melawan dengan semua yang kami punya” jika diserang AS..
“Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak segan-segan membalas dengan segala yang kami punya jika kembali diserang,” tulis Menlu Iran Abbas Araghchi.
Araghchi menyatakan bahwa peringatan itu tidak ia maksudkan sebagai ancaman, melainkan “kenyataan yang saya rasa perlu disampaikan secara eksplisit, karena sebagai diplomat dan veteran, saya benci peperangan”. Araghchi juga memastikan bahwa serangan AS ke Iran akan menjadi konflik berkepanjangan.
“Konfrontasi habis-habisan pasti bakal mengerikan dan berlarut-larut, jauh lebih lama dari estimasi fiktif yang coba “dijajakan” oleh Israel dan proksinya ke Gedung Putih,” tulisnya.
“Hal ini pasti akan berdampak pada wilayah yang lebih luas dan pada masyarakat umum di seluruh dunia,” tambah Menlu Iran itu.
Infiltrasi asing
Sementara itu, otoritas Iran menyebut, aksi-aksi unjuk rasa yang meluas di seluruh Iran berbulan-bulan sebelumnya berlangsung damai, sampai sejumlah kelompok menginfiltrasi dan membuatnya jadi ganas dan brutal.
Hal itu, jelas Araghchi, membuat Teheran melakukan pembatasan informasi dari dan ke Iran (membungkam internet). Namun, ini pula yang kemudian menjadikan situasi di Iran gelap bagi dunia luar.
Kantor berita aktivis HAM Iran di AS (HRANA) menyatakan, telah memverifikasi 4.519 kematian, 4.251 orang di antaranya adalah pengunjuk rasa yang jumlahnya diperkirakan masih terus meningkat.
Sedangkan seorang pejabat Iran memberikan pernyataan ke Reuters bahwa jumlah korban tewas terkait unjuk rasa hingga Minggu (18/1) telah mencapai 5.000 orang, termasuk 500 aparat keamanan, namun, seluruh jumlah korban hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.
Perang kata-kata dan retorika terus dilontarkan oleh kedua belah pihak, namun bagian dunia lainnya pasti menginginkan agar perang terhindarkan. (CNA/CNBC/WSJ/Kompas.com/ns)




