IRAN dilaporkan menutup sebagian Selat Hormuz, sementara Rusia dan China mengirimkan sejumlah kapal perang untuk berpartisipasi dalam latihan angkatan laut gabungan di sekitar perairan tersebut yang akan digelr dalam beberapa haria mendatang.
Hal ini diungkapkan oleh ajudan presiden Rusia, Nikolai Patrushev seperti dilaporkan Iran International yang dikutip Kompas.com, Rabu (18/2).
Dalam sebuah wawancara dengan majalah mingguan Argumenty i Fakty, Patrushev mengatakan, Rusia sedang berupaya membangun tatanan dunia multipolar di lautan sebagaii respons atas hegemoni yang dilakukan pihak Barat dipimpin Amerika Serikat .
Ketiga negara yakni China, Iran dan Rusia menggelar latihan gabungan yang diberi nama “Maritime Security Belt-2026” dalam beberapa hari mendatang di jalur perairan strategis tersebut.
Kantor berita Iran, Tasnim Iran sebelumnya melaporkan bahwa ketiga negara tersebut akan menggelar latihan angkatan laut gabungan kedelapan pada akhir Februari di Samudra Hindia bagian utara.
Latgab akan melibatkan unit-unit dari AL Iran dan AL Garda Revolusi Ira (IRGC), AL China dan AL Rusia.
Latihan ketiga negara tersebut sebenarnya telah diadakan
sejak 2019 atas inisiatif AL Iran,bertujuan untuk memperkuat keamanan perdagangan maritim.
Kegiatan bersama ini meliputi operasi anti-pembajakan, upaya memerangi terorisme maritim, serta misi pencarian dan penyelamatan.
Sebaliknya AS sudah menempatkan gugus armada tempur dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln didukung sejumlah kapal peranag, sementara kapal induk USS Gerald Ford juga sedang menuju wilayah itu.
Alasan tutup Selat Hormus
Sebelumnya, Pemerintah Iran memutuskan untuk menutup sebagian wilayah Selat Hormuz dengan alasan keamanan.
Langkah ini diambil seiring dengan digelarnya latihan militer oleh pasukan Garda Revolusi Iran di perairan strategis tersebut.
“Sebagian Selat Hormuz akan ditutup demi menghormati prinsip-prinsip keselamatan dan navigasi,” lapor jurnalis televisi pemerintah Iran, sebagaimana dikutip dari AFP, Rabu (18/2).
Penutupan sebagian jalur pelayaran internasional itu diperkirakan akan berlangsung selama beberapa jam.
Adapun Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), telah memulai rangkaian latihan militer tersebut sejak Senin (16/2) sebagai upaya kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman keamanan di selat tersebut.
Hingga kini, otoritas setempat belum merinci durasi total latihan perang tersebut. Latihan militer ini berlangsung di tengah peningkatan tensi setelah AS mengerahkan kekuatan AL besar-besaran ke wilayah Teluk.
Semoga perang sebenarnya antara kekuatan militer global yang memiliki senjata pembunuh massal itu hanya sebatas saling gertak dan unjuk kekuatan, tidak terjadi.
Mestinya ketiga kekuatan global yang terlibat langsung yakni antara AS (bersama kekuatan 32 negara NATO dan di kubu lain: China dan Rusia tentu sudah berhitung, kerusakan yang akan terjadi jika perang benar-benar pecah.(Iran Int’l/AFP/Kompas.com/ns)





