
PEMIMPIN Terrtinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan telah mengeluarkan instruksi darurat kepada jajarannya untuk mengantisipasi serangan Amerika Serikat.
Hal itu terungkap dalam laporan the New York Times seperti dikutip Kompas.com bersumber dari pejabat Iran, anggota Korps Garda Revolusi (IRGC) , dan mantan diplomat.
Laporan tersebut menyebutkan, persiapan suksesi muncul di tengah pertimbangan opsi militer oleh Washington menyusul kebuntuan negosiasi terkait program nuklir Iran di Jenewa Swiss, 19 Feb. lalu .
Dilansir dari Yeni Safak, Senin (23/2), Khamenei mengatur pendelegasian wewenang dan rantai komando untuk situasi darurat.
Jika komunikasi terputus atau Pemimpin Tertinggi terbunuh, otoritas pengambilan keputusan akan langsung beralih ke lingkaran terdekatnya.
Laporan itu juga mengungkapkan bahwa Khamenei telah mengangkat Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, ke dalam peran manajemen pusat.
Larijani kini memegang kendali atas urusan negara, termasuk mengelola penanganan demonstrasi di dalam negeri.
Ia juga menangani diplomasi nuklir yang sensitif dengan Washington serta mengoordinasikan hubungan dengan sekutu strategis seperti Rusia, Qatar, dan Oman.
Di samping itu, Larjani juga menyusun perencanaan perang dalam menghadapi potensi serangan AS.
Meskipun memegang peran sentral, Larijani lebih dipandang sebagai “manajer krisis” kepercayaan
Khamenei, bukan sebagai kandidat tunggal suksesi jangka panjang.
Status Siaga Tinggi
Di sisi lain, militer Iran kini berada dalam status waspada tinggi. Teheran telah mengerahkan sejumlah rudal di sekitar Irak dan Teluk Persia, serta rutin menggelar latihan militer.
Dalam pernyataan publiknya, Khamenei tetap menunjukkan sikap menantang dan menjanjikan pembalasan keras terhadap setiap serangan yang menargetkan kedaulatan Iran.
Postur militer ini mencerminkan penilaian Teheran bahwa ruang diplomasi semakin menyempit.
Ketegangan juga semakin memuncak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran hanya diberi waktu selama beberapa hari mengenai kesepakatan nuklir.
Trump juga memberikan peringatan keras bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, maka hal-hal buruk akan terjadi.
Keseimbangan militer
AB reguler dan Garda Revoulsi Iran berkeuatan 610.000 personil, sedangkan AD didukung 5.500 tank tempur sebagian besar peninggalan eks-Uni Soviet seperti T-62 dan T-72, buatan lokal Karrar, 69.000 Â kendaraan lapi baja.
AL Iran didukung 19 unit kapal selam lawas, sebagian  eks- Uni Soviet, sejumlah korvet dan  puluhan kapal-kapal patroli cepat berudal, sedangkan AU-nya mengoperasikan 180-an pesawat, sebagian besar peninggalan AS seperti pesawat generasi tahun ’70-an seperti F-4 Phantom, F-5 Tiger dan F-14 Tomhawak serta MiG-29 eks Soviet.
Anggaran militer AS yang tertinggi di dunia, menurut Global Firepower 895 miliar dollar AS di ranking ke-1 dibandingkan Iran 15,4 miliar AS di ranking ke-36.
Sebaliknya, AS sudah menempatkan dua kapal induknya: USS Abraham Lincoln dan USS Gerald Ford yang membawa 150-an pesawat tempur termasuk siluman F-35 Super Lightning dan F-22 Raptor.
Kedua kapal induk armada gugus tempur AS tersebut juga dikawal belasan kapal perusak, fregat dan kapal selam nuklir dan mengangakut sekitar 8.000-an marinir.
Jika pecah perang, AS bersama Israel diperkirakan akan melancarkan serangan kilat ke markas komando, pusat logistik dan situs-situs militer lawan dengan memanfaatkan keunggulan teknologi di udara dan laut.
Sebaliknya Iran akan mengguyur wilayah Israel dan pangkalan AS di Bahrain, Oman dan Qatar dengan ribuan stok rudal balistiknya yang mampu menjangkau wilayah Israel dan pangklan AS di Bahrain, Kuwait, UEA Â dan Qatar walau dalam konflik 12 hari Juni tahun lalu tidak efektif.
Hasil perang tentu bakal berbeda dengan retorika perang yang dilontarkan para pihak yang bertikai selama ini dan juga perkiraan publik awam.
Bagi Iran, Â di tengah kemungkinan serangan AS, stabilitas politiknya juga terancam oleh kelompok akar rumput dan mahasiswa anti pemerintah yang mendapat peluang mengambilalih pemerintahan. (Jeni Safak/the NYT/ns)




