JAKARTA, KBKNEWS.id – Suara ketukan kunci pas dan dengung mesin motor menjadi keseharian Eka Anendar Putra (29) di Bengkel Promatic Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa.
Sejak 2025, ia dipercaya menjadi Kepala Bengkel Promatic di Bekasi setelah melalui proses pembinaan selama lima tahun.
Bengkel Promatic merupakan unit usaha yang dikelola Institut Kemandirian di bawah naungan Dompet Dhuafa. Saat ini terdapat empat bengkel Promatic yang tersebar di Cilangkap dan Pagelarang (Jakarta Timur), Kodau (Bekasi), serta Kelapa Dua (Tangerang). Bengkel tersebut menjadi ruang belajar sekaligus ruang berkembang bagi para alumni pelatihan otomotif IK.
Sebelum bergabung dengan IK pada 2019, Eka bekerja di sebuah pabrik selama sekitar tiga tahun. Lulusan SMK Teknik Kendaraan Ringan itu sebenarnya sudah akrab dengan mesin sejak sekolah.
Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, meski ia memiliki minat pada dunia bisnis.
Meski demikian, Eka tetap menyimpan mimpi untuk memiliki usaha sendiri. Saat bekerja di pabrik, ia banyak belajar secara mandiri dengan mengamati sistem kerja, manajemen, hingga pola bisnis di tempatnya bekerja.
“Keinginan saya memang kelak memiliki usaha bisnis sendiri. Kalau saya di pabrik, mungkin akan lebih sulit dan lebih lama saya memiliki usaha seperti itu,” ujarnya.
Tahun 2019 menjadi titik balik bagi Eka ketika ia mengikuti pelatihan otomotif di Institut Kemandirian selama tiga bulan. Di sana, ia ditempa tidak hanya dalam keterampilan teknis, tetapi juga kedisiplinan, etos kerja, serta dasar-dasar manajemen.
Setelah lulus, ia menjalani magang di Bengkel Promatic IK Dompet Dhuafa di Pagelarang, Jakarta Timur. Kariernya kemudian berkembang dari mekanik junior selama dua tahun, naik menjadi mekanik senior selama dua tahun berikutnya, hingga memasuki fase inkubasi bisnis.
Manager Bisnis Unit IK, Iqbal Ardiansyah, menjelaskan bahwa fase inkubasi menjadi tahap penting dalam pembinaan alumni. Pada fase ini para mekanik didorong memahami pengelolaan usaha, mulai dari manajemen, keuangan, hingga pengelolaan sumber daya manusia agar siap memiliki bengkel sendiri.
Kini, dengan pengalaman teknis dan manajerial yang dimilikinya, Eka menargetkan dapat merintis bengkel pribadinya dalam waktu dekat. Jabatan Kepala Bengkel ia maknai sebagai proses pematangan terakhir sebelum benar-benar mandiri.





