Peringatan World Women Day 2026 — “Give to Gain” menjadi momen strategis untuk menyorot kesehatan lansia perempuan dan urgensi pencegahan demensia: karena perempuan menanggung proporsi kasus demensia yang lebih besar akibat kombinasi harapan hidup lebih panjang, ketimpangan pendidikan generasi tua, dan faktor biologis.
Dengan memberi investasi nyata melalui akses skrining tekanan darah dan pendengaran, program aktivitas fisik dan stimulasi kognitif, serta dukungan bagi caregiver, berarti kita memberi kesempatan bagi perempuan untuk mempertahankan fungsi kognitif lebih lama. Dengan kata lain, ketika masyarakat, kebijakan, dan keluarga memberi perhatian dan sumber daya yang tepat, kita semua mendapat manfaat berupa penurunan beban demensia dan peningkatan kualitas hidup perempuan serta keluarganya.
Secara global, demensia sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat besar: puluhan juta orang hidup dengan kondisi ini hari ini, dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat tajam seiring penuaan populasi. Proyeksi internasional menunjukkan kenaikan signifikan dalam beberapa dekade mendatang, sehingga beban sosial, ekonomi, dan layanan kesehatan akan terus bertambah jika langkah pencegahan dan perawatan tidak diperkuat.
Di banyak studi dan ringkasan bukti, perempuan menanggung proporsi kasus demensia yang lebih besar dibanding laki-laki; untuk Alzheimer, sekitar dua pertiga dari kasus dilaporkan terjadi pada perempuan.
Perbedaan ini tidak hanya karena perempuan hidup lebih lama, tetapi juga karena kombinasi faktor biologis, sosial, dan ekonomi yang menurunkan cadangan kognitif generasi perempuan lansia. Oleh karena itu, strategi pencegahan dan layanan harus mempertimbangkan kebutuhan spesifik perempuan, termasuk akses pendidikan, manajemen kesehatan kardiometabolik, dan dukungan sosial.
Kenaikan jumlah orang dengan demensia berlangsung lebih cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk banyak negara di Asia Tenggara. Faktor pendorongnya meliputi peningkatan harapan hidup, prevalensi faktor risiko kardiometabolik yang meningkat, dan keterbatasan akses pendidikan serta layanan kesehatan.
Di wilayah ini, perempuan lansia sering menghadapi hambatan ganda—akses layanan yang lebih rendah dan beban peran keluarga—sehingga intervensi pencegahan yang sensitif gender sangat penting.
Di Indonesia, studi populasi menunjukkan variasi prevalensi demensia pada lansia tergantung metode dan lokasi, dengan angka yang melaporkan rentang yang cukup lebar pada populasi lansia.
Pola nasional konsisten dengan temuan global: lebih banyak perempuan yang terdampak. Faktor lokal seperti perbedaan tingkat pendidikan antar generasi, akses layanan kesehatan primer, dan beban sosial perempuan memperkuat kebutuhan program pencegahan yang menargetkan perempuan, termasuk skrining tekanan darah, pemeriksaan pendengaran, dan program aktivitas fisik komunitas.
Beberapa faktor yang menjelaskan beban demensia yang lebih tinggi pada perempuan adalah harapan hidup lebih panjang dimana lebih banyak perempuan mencapai usia rentan; cadangan kognitif yang dipengaruhi pendidikan dimana generasi lansia perempuan seringkali memiliki tingkat pendidikan formal yang lebih rendah, sehingga cadangan kognitif (cognitive reserve) cenderung lebih kecil; perubahan biologis dan hormonal karena terjadi penurunan estrogen pasca-menopause dan perbedaan respons inflamasi atau vaskular dapat memengaruhi kerentanan otak terhadap patologi Alzheimer serta Interaksi faktor kardiometabolik, beberapa penyakit seperti Hipertensi, diabetes, obesitas, dan gangguan pendengaran yang tidak ditangani meningkatkan risiko; pola prevalensi faktor-faktor ini berbeda menurut jenis kelamin dan wilayah.
Beban sosial dan peran seumur hidup juga menjadi salah satu factor penting karena perempuan sering memikul peran caregiving, stres kronis, dan akses layanan kesehatan yang tidak merata—semua berkontribusi pada risiko jangka panjang.
Laporan Dementia prevention, intervention, and care: 2020 (Lancet Commission) merangkum bukti kuat bahwa ada 12 faktor risiko demensia bersifat bisa dimodifikasi sepanjang hidup. Laporan menyimpulkan bahwa intervensi pada faktor-faktor ini dapat mencegah atau menunda proporsi besar kasus demensia.
Berdasarkan bukti yang dirangkum Lancet, beberapa langkah pencegahan yang paling relevan dan dapat diimplementasikan di tingkat individu dan komunitas misalnya: Kontrol tekanan darah sejak usia 30-an (target sistolik ≤130 mm Hg); aktivitas fisik teratur minimal 150 menit aktivitas aerobik moderat per minggu ditambah latihan kekuatan dan keseimbangan; latihan beban (resistance training) juga menunjukkan manfaat untuk kesehatan otak. Stimulasi kognitif dan pendidikan seumur hidup melalui kegiatan membaca, belajar keterampilan baru, permainan strategi, dan kursus komunitas meningkatkan cadangan kognitif, perawatan pendengaran melalui deteksi gangguan pendengaran dan penggunaan alat bantu dengar mengurangi risiko terkait isolasi sosial dan penurunan kognitif.
Manajemen kesehatan kardiometabolik dengan melakukan kontrol gula darah, kolesterol, berhenti merokok, dan pengendalian berat badan; melakukan deteksi serta pengobatan depresi, dan program yang mengurangi isolasi sosial (kelompok hobi, kegiatan keagamaan, posyandu lansia) serta perlindungan terhadap cedera kepala dan pengurangan paparan polusi udara adalah beberapa upaya penting dalam
World Women Day 2026 adalah momen untuk memberi — sumber daya, perhatian, dan kebijakan — sehingga kita mendapat manfaat berupa kesehatan dan kesejahteraan perempuan lansia, setiap pemangku kepentingan punya peran saling melengkapi dalam mengurangi beban demensia pada perempuan: pemerintah membuat kebijakan pencegahan seumur hidup (pendidikan, pengendalian polusi, keselamatan) dan mengalokasikan anggaran untuk layanan lansia; layanan kesehatan primer melakukan skrining kognitif dan faktor risiko (tekanan darah, diabetes, pendengaran) serta menyediakan perawatan pasca-diagnosis yang holistik; komunitas, LSM, dan organisasi perempuan menggerakkan program aktivitas fisik, stimulasi kognitif, dan pelatihan caregiver; keluarga dan caregiver mendeteksi dini perubahan, menciptakan lingkungan aman, dan memanfaatkan layanan respite; media menyebarkan edukasi sensitif gender dan mengurangi stigma; sementara sektor swasta dan akademia mendukung layanan homecare, kebijakan ramah caregiver, serta penelitian dan inovasi—ketika semua pihak bertindak bersama dengan fokus pada perempuan, investasi nyata hari ini akan menurunkan risiko demensia dan meningkatkan kualitas hidup perempuan lansia serta keluarganya.





