
PERANG antara Iran dan koalisi Amerika Serikat – Israel masih berkecamuk sampai hari ke-12, Rabu (11 Maret) sementara retorika perang terus digaungkan oleh kedua belah pihak yang bertikai.
Puluhan rudal balistik dan drone kamikaze Shahed-36 dan Mohazer-10 andalan Iran masih terus menyasar Tel Aviv dan kota pelabiuhan Haifa, sebagan besar berhasil dijatuhkan sistem pertahanan berlapis Iron Dome, David’s Slings dan Arrow Israel, namun sebagian juga ada yang lolos, menimbulkan kepanikan warga dan kerusakan sejumlah bangunan.
Iran bahkan terus menyebar rudal-rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan militer AS di, Kuwair, Uni Emirat Arab dan pusat pengolahan minyak di Arab Saudi dan Oman.
Enam prajurit AS tewas akibat serangan drone Iran yang menyasar pusat komando AS di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait (6/3) dan tiga pesawat tempur Strike Eagle F-15 AS ditembak jatuh akibat “Friendly fire” atau salah tembak satuan pertahanan audara Kuwait (2/3).
Presiden AS Donald Trump mengaku, perang sesuai misi mereka hampir rampung dan menyebut Iran sudah kehilangan segala-galanya termasuk kekuatan laut dan udaranya.
Sistem komando, komunikasi, radar pertahanan udara sudah dilumpuhkan, begitu pula sekitar 300-an situs peluncur rudal dan pabrik drone telah dihancurkan.
“Perang akan lebih cepat selesai dari perkiraan awal kami sebelumnya yakni empat sampai lima minggu, “ tutur Trump.
Koalisi AS dan Israel terus menggempur sejumlah titik perlawanan Iran melalui serangan udara dengan pengebom B-52 Sratrofortress, dan jet-jet tempur Siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning. Dilaporkan, 3.000 titik di wilayah iran telah diserang pesawat-pesawat tempur dan rudal Tomahwk AS.
Dalam upaya megamankan Selat Hormuz, AS dilaporkan menenggelamkan 11 kapal penyebar ranjau yang sedanga memasang ranjau di selat sempit itu. Seluruhnya dilaporkan, 50-an kapal perang Iran ditenggelamkan oleh drone-drone AS.
Sementara Israel, selain ambil bagian dalam serangan udara ke kantong-kantong pertahanan dan situs militer Iran, juga membombardir posisi Hizbullah proksi Iran yang beroperasi di sekitar Beirut, Lebanon. Hizbullah dilaporkan telah meluncurkan 800-an rudal dan roket ke wilayah Israel sejak awal konflik (28/2).
Gelombang ke-37 serangan Iran
Sebaliknya, Iran masih mampau melancarkan gelombang serangan ke-37 dengan rudal-rudal dan drone Kamikaze Shahed -136 dan Mohazer-10 yang berjangkauan 2.000 km ke berbagai target di Israel termasuk Tel Aviv.
Iran bersumpah akan semakin gencar membombardir dan ‘meratakan’ kota-kota di Israel termasuk Tel Aviv.
Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Majid bahkan menegaskan kepada media Iran Mousavi, negaranya tidak akan lagi menggunakan rudal dengan hulu peledak berbobot kurang dari satu ton.
Iran akan memakai semua stok rudalnya yang memiliki hulu ledak minimal satu ton untuk melancarkan gempuran masif ke Israel,
Dikutip dari Middle East Monitor, Majid mengatakan rudal-rudal tersebut akan diarahkan ke Israel dan fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
IRGC juga mengatakan sempat meluncurkan sejumlah rudal balistik ‘kelas berat’ berjenis hipersonik dengan daya ledak tinggi ke target-target di Israel.
Sementara Irib News melaporkan, rudal-rudal balistik Iran antara lain Ghadr, Emad, dan Fattah, dan yang terbaru rudal Kheibar telah digunakan dalam serangan ke-34 “Operation True Promise 4,”.
Rudal-rudal tersebut dilaporkan lolos dari cegatan rudal sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel hingga sistem pertahanan ufuk tinggi (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD) milik AS.
“Seluruh rudal kelas berat itu yang akan diluncurkan Iran untuk ‘meratakan’ Israel, terutama fasilitas militer mereka.
Serangan gencar Iran merupakan bagian dari janji IRGC yang akan terus menggempur Israel dan tidak membuka ruang negosiasi, sekaligus menjawab klaim Presiden Trump bahwa perang di Iran memasuki masa-masa akhir.
Trump juga sebelumnya mengatakan bahwa berakhirnya peperangan tergantung keputusannya dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
IRGC respons klaim AS
IRGC langsung menjawab klaim tersebut bahwa perang baru akan berhenti jika mereka menghendaki perang selesai, bahkan jika musuh sudah menghentikannya sekali pun.
“Kami lah yang akan menentukan akhir perang,” demikian pernyataan IRGC pada Selasa (10/3), seperti dikutip AFP.
“Situasi dan status masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami. Pasukan Amerika tidak akan bisa mengakhiri perang,” lanjut IRGC.
Sejumlah ledakan terdengar di Tel Aviv, menunjukkan bahwa beberapa dari puluhan rudal yang mengarah ke kota itu luput dari sistem pertahanan berlapis Israel yakni Iron Dome, David’s Sling dan Arrow.
Di balik retorika perang yang dilontarkan oleh kedua kubu, situasi di lapangan sangat dinamis, di mana teknologi persenjataan, berupa jangkauan, akurasi dan daya rusak, juga dukungan intelijen memanfaatkan teknologi cyber dan AI berperan besar menentukan hasil pertempuran. (Reuters/CNN/Al Jazeera/ns)




